Persaingan SBMPTN 2019 Ketat

(Bay/H-3)
24/10/2018 07:55
Persaingan SBMPTN 2019 Ketat
(ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

BERKURANGNYA kuota seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) 2019 dari 30% menjadi 20% di jalur undangan akan membuat persaingan semakin ketat. Pada akhirnya, sistem seleksi baru itu dinilai dapat menyaring calon-calon mahasiswa terbaik.

Hal itu dikemukakan pemerhati pendidikan Doni Koesuma saat menjawab Media Indonesia di Jakarta, kemarin.

"Selama ini, jalur undangan tidak mampu menyeleksi yang terbaik. Ini terjadi karena kuota terlalu besar. Persis ini kritik yang pernah saya lontarkan bahwa kuota jalur undangan berpotensi dimanipulasi sekolah karena hanya mendasarkan diri pada nilai rapor," katanya.

Ia mengungkapkan sudah banyak penelitian menunjukkan para mahasiswa yang lolos melalui jalur undangan SNMPTN meraih indeks prestasi (IP) yang tidak jauh berbeda dengan mahasiswa yang masuk lewat pintu seleksi bersama masuk PTN (SBMPTN).

Bahkan, menurutnya, kuota SNMPTN bisa dipangkas lagi hingga 10% sehingga kuota SBMPTN bisa bertambah lebih dari 40%.

Penerimaan mahasiswa baru pada 2019 tidak lagi dilaksanakan panitia seleksi yang sifatnya ad hoc, tetapi dilakukan institusi bernama Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT).

Lembaga itu bertugas mengelola dan mengolah data calon mahasiswa baru pada jalur SNMPTN dan SBMPTN.

Dalam pelaksanaan SBMPTN 2019 hanya terdapat satu metode tes, yaitu ujian tulis berbasis komputer.

Pemerhati pendidikan dari Universitas Paramadina, Totok Amin Soefijanto mengingatkan seharusnya pengurangan kuota SNMPTN mempunyai alasan kuat.

"Kemenristek-Dikti mesti punya data akurat. Perlu penjelasan yang komprehensif karena justru kenyataan di lapangan bisa berbeda. Beberkan saja hasil risetnya."

Ia mencontohkan IPB yang sudah menjadi pelopor penerimaan tanpa tes sejak Proyek Perintis 2 pada 1980-an. IPB, menurutnya, akan menetapkan kuota minimal 40% dari jalur SNMPTN.

"Apakah ini berarti IPB melanggar ketentuan Kemenristek-Dikti?" cetusnya.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya