Sampel Terduga Flu Burung Diuji Ulang

Cornelius Eko Susanto
29/3/2015 00:00
Sampel Terduga Flu Burung Diuji Ulang
ILUSTRASI(ANTARA/Fanny Octavianus)
BADAN Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kembali melakukan uji sampel usap tenggorok (swab) Nyonya T terduga (menunjukkan gejala klinis disertai riwayat kontak) flu burung.

Uji ulang swab kembali dilakukan, setelah suami Nyonya T, yakni N, 40, dan anaknya, M, 2, positif terjangkit flu burung berdasarkan uji laboratorium Balitbangkes Kemenkes. Suami dan anak Nyonya T meninggal dunia, Selasa (24/3), dan dikebumikan di TPU Selapanjang Jaya, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (26/3).

"Ini uji sampel ketiga yang dilakukan di Balitbangkes. Hasil uji sampel pertama dan kedua menunjukkan hasil negatif flu burung," ujar Kepala Balitbangkes Tjandra Yoga Aditama, kemarin.

Tjandra menegaskan, swab yang diambil merupakan bahan cairan di paru dan saluran napas seorang pasien.

Terkait Nyonya T, Tjandra mengatakan secara umum kondisi kesehatannya semakin membaik dan tidak menderita demam lagi. Selain memeriksa wanita tersebut, petugas Kemenkes juga memantau orang yang memiliki riwayat kontak dengan para almarhum dan unggas yang diduga menularkan flu burung.

Berdasarkan penelusuran epidemiologis yang dilakukan petugas Kemenkes, diketahui bahwa kejadian bermula ketika N, pegawai Imigrasi Cabang Kelapa Gading, bersama keluarganya berlibur ke rumah orangtuanya di Bogor, Jawa Barat, pada 8 Maret lalu.

Ketika keluarga itu berkunjung, ada seekor burung hantu yang didapati mati mendadak. Sembilan hari kemudian, M mengalami demam tinggi dan sempat dirawat di Eka Hospital dan dirujuk ke RSUP Persahabatan, Jakarta. Empat hari seusai M dirawat, pada 21 Maret, N, ayah M, menunjukkan gejala serupa dan dirawat di RS Usada Insani, Tangerang, hingga akhirnya wafat.

Dirjen Pengendalian Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkung­an Kemenkes Subur mengatakan pro­ses identifikasi penularan di lingkungan almarhum dilakukan 14 hari.

Di Sorong
Sementara itu, flu burung juga sudah merambah ke Kota Sorong, Papua Barat, setelah 200 ekor ayam mati mendadak. Penyebaran flu burung diduga disebabkan masuknya ayam aduan dari luar Sorong.

Pihak Pemprov Papua Barat sedang berusaha mengumpulkan sejumlah pihak terkait untuk meng­antisipasi penyebaran penyakit flu burung lebih lanjut.

"Tindakan penyebaran penyakit flu burung perlu diantisipasi dengan sosialisasi kepada masyaraka," kata Kepala Pencegahan penyebaran Penyakit Kota Sorong dr Firdianiel di Sorong, Jumat (27/3).

Sementara itu, tim peneliti Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada (UGM) tidak menemukan indikasi berkembangnya virus avian influenza (AI) atau flu burung di sejumlah peternakan unggas berskala komersial di Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Semua farm tidak terdeteksi AI,” kata peneliti bidang mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Michael Haryadi Wibowo MP di University Club UGM, Jumat (27/3). (MS/AU/E-3)

cornel@mediaindonesia.com



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya