Menteri LHK Pastikan Orang Utan Tapanuli Tidak Terganggu Proyek PLTA

Dhika Kusuma Winata
17/10/2018 17:09
Menteri LHK Pastikan Orang Utan Tapanuli Tidak Terganggu Proyek PLTA
(MI/MOHAMAD IRFAN)

MENTERI Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya menegaskan kepentingan konservasi orang utan Tapanuli tetap diprioritaskan dalam proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Pengembang PLTA, PT North Sumatra Hydro Energy (NSHE), telah diminta memperbaiki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) untuk mengakomodasi pelestarian satwa tersebut.

"Kita sudah perintahkan pihak PLTA untuk perbaiki studi Amdal khusus soal orang utan. Karena dulu belum diketahui adanya orang utan tersebut," kata Siti seusai membuka Rapat Koordinasi Teknis bidang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem di Jakarta, Rabu (17/10).

Tim KLHK, lanjut Siti, hingga saat ini terus memonitor kondisi orang utan dan area jelajahnya di sekitar proyek PLTA. Menurut dia, hasil pemantauan menunjukkan orang utan tetap bisa hidup dan tidak terganggu dengan pembangunan PLTA.

"Tim sudah 6 minggu di sana dan hasilnya tidak seperti yang dibayangkan. Orang utan tetap ada membuat sarang di area sekitar PLTA. Pembangunan PLTA memang bukan di dalam kawasan hutan tetapi di luar kawasan hutan," imbuh Siti.

Demi tetap melindungi satwa terancam punah tersebut, kata Siti, nantinya koridor jelajah orang utan yang saat ini dipantau dan dipetakan bakal dijaga agar tidak terganggu pembangunan. "Koridor jelajahnya mesti dijaga. Orang utan memiliki koridor jelajahnya sendiri dan kita tinggal mengikuti saja," ucapnya.

Berdasarkan hasil pemantauan Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Ditjen KSDAE KLHK, habitat keberadaan orang utan Tapanuli di kawasan Batangtoru tersebar pada tiga blok terpisah, yakni blok barat, timur, dan selatan. Luas keseluruhan kawasan Batangtoru mencapai 163,846 hektar.

Populasi orang utan terbanyak berada di blok barat, yang mengarah ke Adian Koting, Kabupaten Tapanuli Utara. Berikutnya berada di blok timur, yakni wilayah cagar alam (CA) Sipirok di Tapanuli Selatan, dan yang paling sedikit berada di blok selatan, terutama cagar alam Sibual-buali.

Hasil pemantauan terakhir menunjukkan kepadatan orang utan di kawasan sekitar PLTA terbilang rendah, yakni hanya sekitar 0,41 individu per kilometer persegi.

Dirjen KSDAE KLHK Wiratno mengatakan pihaknya telah meminta PT NSHE untuk menyiapkan koridor satwa berupa jembatan penghubung antarblok populasi orang utan. Hal itu demi menjamin interaksi antar populasi terjaga dan menghindari perkawinan sekerabat. (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya