Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MASIH minimnya perhatian dan kepedulian pemerintah daerah dalam memperhatikan kondisi gizi dan nutrisi anak-anak di wilayahnya dinilai menjadi penyebab masih tingginya potensi stunting di Indonesia
Dalam kaitan ini, Pemerintah melalui Kemendikbud berupaya memantik kembali program gizi untuk anak sekolah tingkat dasar dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dengan menganggarkan Rp200 miliar guna mencegah stunting di wilayah timur Indonesia. Dana tersebut akan dibagikan untuk 100 kabupaten kota di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
"Program gizi anak sekolah ini untuk jenjang PAUD dan sekolah dasar. Sebab anak-anak PAUD dan SD kelas 1 sampai 3 potensial terkena stunting. Itu sebabnya gizi dan nutrisinya harus dijaga," kata Sekjen Kemendikbud, Didik Suhardi, ketika membuka seminar Hari Pangan Sedunia bersama Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Center for Food and Nutrition (Seameo Refcon) di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Selasa (16/10).
Menurut Didik, Seameo dan Kemendikbud sejak 2015 telah melakukan riset terhadap gizi dan nutrisi. Terutama untuk makanan tambahan anak sekolah
"Program ini memprioritaskan makanan lokal. Contohnya sagu, singkong, ubi, jagung, dan lainnya. Yang jelas gizinya harus cukup.kita akan bekerja sama dengan warga setempat dalam mengelola makanan lokal ini sehingga ekonomi daerah bisa terdongkrak," ujar Didik.
Adapun program perbaikan gizi dan nutrisi anak-anak PAUD serta SD, ratusan kabupaten dan kota yang menjadi prioritas antara lain Papua, Papua Barat, NTT, Maluku, dan lain-lain.
Didik mengutarakan, salah satu pencegahan stunting adalah proaktifnya pemda. Pasalnya, ada daerah yang penduduknya sedikit dengan pendapatan asli daerah (PAD) tinggi, tapi tetap ada kasus stunting. Ini karena kepala daerahnya tidak peduli.
"Jadi, faktor adanya stunting bukan hanya karena wilayah itu miskin atau tidak. Lebih utama pentingnya kepedulian kepala daerah dalam masalah gizi dan nutrisi anak," tandasnya.
Program perbaikan gizi dan nutrisi ini pernah dilakukan 2013. Kemudian berhenti dan mulai lagi 2016. Ini setelah Kementerian Kesehatan menyebutkan ada potensi stunting. Pada 2013 ada 9 juta atau 37,2% anak stunting. Jumlah ini berkurang pada 2016 menjadi 27,5%.
Direktur Seameo Refcon, Muchtarudin Mansyur, mengemukakan ,sektor pendidikan berperan penting dalam mengatasi masalah gizi. Pasalnya, gizi bermasalah dapat menjadi barrier atau penghalang anak guna dapat belajar dengan baik.
"Sehingga institusi pendidikan menjadi wahana penting mengatasi masalah gizi dan nutrisi anak anak kita," kata Muchtarudin.
Menurutnya, Seameo Refcon sebagai pusat kajian gizi regional Asia Tenggara bersama Kemendikbud menyiapkan upaya atasi gizi dengan Program Gizi Anak Sekolah di 100 kabupaten kota wilayah 3T untuk sekolah jenjang PAUD dan SD. (OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved