Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
RATNA Sarumpaet (RS) telah menciptakan kebohongan sempurna karena begitu banyak pemimpin di negeri ini yang tertipu. Perempuan berusia 69 tahun itu mengakui bahwa dirinya ialah pencipta hoaks (kabar bohong) terbaik.
Psikolog klinis forensik, A Kasandra Putranto, menyatakan, bagaimanapun kebohongan publik ialah pelanggaran nilai moral yang berpotensi meningkat menjadi pelanggaran norma hukum. Apalagi, hal itu dilakukan dengan sengaja untuk membangun persepsi tertentu.
"Kebohongan publik yang dilakukan RS harus dibuktikan dengan penyidikan kepolisian. Sanksi sosial jelas perlu di samping sanksi hukum," jelasnya saat dihubungi, tadi malam.
Kalau dilihat dari kacamata psikologi klinis dan forensik, menurutnya, ada kemungkinan kebohongan RS itu merupakan bagian dari profil kepribadian pelaku. Aksi bohongnya dinilai telah menjadi kebiasaan karena terjadi berulang tanpa merasa bersalah.
Namun, itu perlu dibuktikan melalui pemeriksaan. Pemeriksaan terhadap pelaku bisa dilakukan dengan melihat bahasa tubuh, wawancara kognitif, dan deteksi kebohongan.
"Umumnya seseorang melakukan kebohongan, antara lain, takut akan akibat dari kejujuran, pelaku ingin menutupi kenyataan tertentu, memiliki intensi tertentu, ingin mendapatkan perhatian dan bagian dari profil kepribadian."
Tidak menutup kemungkinan, kata Kasandra, RS juga memiliki gejala haus perhatian. Ini terlihat dari ekspresi RS yang justru menikmati sorot kamera saat mengakui kebohongannya. "Umumnya, semua pelaku kejahatan selalu menunduk karena malu atau mengakui kesalahan," cetus psikolog lulusan UI itu.
Kasus ini bermula dari beredarnya foto RS di media sosial dan Whatssapp, Selasa (2/10) siang. Muka perempuan kelahiran Tarutung, Tapanuli Utara, 16 Juli 1949 itu tampak lebam.
Lewat Twitter, politikus Gerindra, Rachel Maryam, pada pukul 10.51 WIB siang mengonfirmasi penganiayaan itu benar adanya. Kepada Rachel, RS mengaku dipukuli oleh sejumlah orang di sekitar Bandara Husein Sastranegara, pada 21 September 2018. Tak berapa lama, Prabowo Subianto menemuinya dan menduga penganiayaan itu menjurus ke arah politis.
"RS memanfaatkan bengkak wajahnya untuk memperoleh sesuatu dengan tidak wajar. Sampai dengan sengaja menimbulkan kebencian pada kelompok tertentu. Ini berbahaya," pungkas Kasandra.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved