Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PENANGANAN pascagempa dan tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng) segera diupayakan dengan dibarengi penelitian untuk mengambil data teknis dan menjadi bagian dari mitigasi bencana ke depan.
Penelitian ditandai dengan berlayarnya Kapal Baruna Jaya I dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, menuju Palu, Sulteng, Rabu (3/10) malam. Kapal riset akan menggelar Operasi Bakti Teknologi Sulteng yang diinisiasi Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB).
Penelitian tersebut dilakukan sejumlah pihak, antara lain Kementerian Koordinator Kemaritiman, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Harmoni Indonesia, dan Artha Graha Peduli.
Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengatakan, berdasarkan pemaparan sejumlah ilmuwan, gempa dan tsunami yang terjadi di Sulteng mengejutkan, meski sesar aktif Palu-Koro yang menyebabkan gempa tersebut sudah banyak dipelajari oleh peneliti Indonesia.
"Sebagai negara maritim, kita belum banyak melakukan penelitian di perairan. Oleh karena itu, penelitian nanti akan dipusatkan di beberapa titik di laut dangkal, laut dalam, dan daratan," kata Luhut saat melepas pelayaran KM Baruna Jaya 1 di Tanjung Priok.
Penelitian di Sulteng renca-nanya berlangsung 10 hari yang melibatkan sejumlah ilmuwan dari berbagai instansi dan universitas. Bahkan BPPT menyertakan sejumlah alat inovasi ciptaannya untuk kepentingan masyarakat Sulteng yang terdampak bencana, salah satunya alat penjernih air.
Kapal riset Baruna Jaya 1 yang dijadwalkan bersandar di Pelabuhan Pantoloan, Donggala, pada Minggu (7/10) mendatang juga mengangkut 200 ton bantuan tanggap darurat.
Ketua Harian Artha Graha Peduli Heka Hertanto mengatakan delapan relawan Artha Graha Peduli yang ikut dalam pelayaran KM Baruna Jaya 1 sudah mengantongi sertifikat dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana. "Mereka nanti juga akan ikut dalam penelitian dan membantu mendistribusikan bantuan. Bantuan lainnya segera menyusul ke Sulteng," ujarnya.
Detektor baru
Sementara itu, BPPT telah mengembangkan sejumlah teknologi yang dapat dijadikan peringatan dini gempa bumi dan tsunami. Penerapan teknologi yang tepat sangat penting dalam kesiapsiagaan dan mitigasi bencana.
Menurut Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Alam BPPT Hammam Riza, pengembangan teknologi yang tengah dirintis peneliti di BPPT berupa buoy, pendeteksi tsunami jenis lain, yakni cable based tsunameter (CBT). Perangkat itu dipasang di dasar laut, terhubung dengan kabel listrik dan data. dan tidak lagi menga-pung di permukaan.
Hammam menjelaskan, teknologi tersebut telah dite-rapkan di banyak negara, antara lain Jepang dan Amerika Serikat. Berbeda dengan buoy yang pemeliharaannya menelan banyak biaya, perawatan CBT lebih efisien.
CBT menggunakan kabel optik yang diletakkan di bawah laut dengan dilengkapi sensor untuk mendeteksi tekanan dasar laut. Dari sana akan didapatkan data tinggi gelombang sebagai peringatan dini tsunami sebelum sampai ke daratan.
"Modal pemasangan CBT lebih mahal, tapi operasionalnya lebih murah. Biaya perawatannya pun demikian," terangnya. (Ind/H-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved