PVMBG: Aktivitas Gunung Soputan bukan Akibat Gempa Palu

Cahya Mulyana
04/10/2018 20:50
PVMBG: Aktivitas Gunung Soputan bukan Akibat Gempa Palu
(ANTARA FOTO/Adwit B Pramono)

PUSAT Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menegaskan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Soputan di Sulawesi Utara bukan diakibatkan gempabumi yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah. Peningkatan reaksi Gunung Soputan telah terjadi jauh sebelum gempa bumi di Palu terjadi pekan lalu.

"Hasil analisis data Badan Geologi menyimpulkan bahwa erupsi yang terjadi di Gunung Soputan bukan diakibatkan oleh gempa Palu melainkan karena intrusi magmatik di dalam Gunung Soputan sendiri. Peningkatan aktifitas Gunung Soputan sudah terjadi lebih dahulu daripada gempa Palu," ujar Kepala Badan Geologi, Rudy Suhendar, dalam keterangan resmi. Kamis (4/10).

Rudy menjelaskan bahwa intrusi magmatik di dalam Gunung Soputan telah berlangsung lama. Sementara gempa Palu terjadi pada 28 September 2018 tetapi kegempaan Gunung Soputan sudah meningkat sejak Juli 2018 yang mengindikasikan bahwa pergerakan magma ke permukaan sudah terjadi beberapa bulan sebelum terjadinya gempa Palu. Magma Gunung Soputan telah bergerak menuju ke arah erupsi sebelum gempa Palu terjadi.

"Kemudian sumber magmatisme Gunung Soputan adalah dari pergerakan subduksi Lempeng Laut Maluku yang mengarah ke Barat dan berbeda dengan sumber Gempa Palu yang adalah sesar geser Palu-Koro," terangnya.

Ia menjelaskan, terdapat 9 gunung api aktif yang ada di Sulawesi berurutan dari yang terdekat hingga terjauh dari sumber gempa Palu yaitu Gunung Colo, Gunung Ambang, Gunung Soputan, Gunung Mahawu, Gunung Lokon, Gunung Tangkoko, Gunung Ruang, Gunung Karangetang dan Gunung Awu. Dari 9 gunung api aktif itu hanya Gunung Soputan yang mengalami erupsi, sementara 8 gunung api lainnya belum mengalami erupsi.

"Hal ini mengindikasikan bahwa Gempa Tektonik Palu bukanlah sumber dari erupsi Gunung Soputan melainkan magma di dalam tubuh gunung itu sendiri yang memungkinkan gunungapi tersebut mengalami erupsi," katanya.

Terdapat kemungkinan bahwa magma yang berada di dalam tubuh gunungapi dapat terganggu oleh gempa tektonik berupa pertumbuhan gelembung gas, dorongan gas untuk naik ke permukaan maupun goncangan dapur magma. Statistika gunung api di dunia mengatakan ada sekitar 0,4% erupsi yang didahului oleh gempa tektonik besar seperti gempa Palu.

Namun hingga saat ini belum ada data maupun pembuktian secara ilmiah yang mengindikasikan bahwa gempa Palu memicu terjadinya erupsi Gunung Soputan.

Gunung api Soputan merupakan gunung api bertipe strato (berlapis) yang terletak pada posisi geografis 1°06’30” Lintang Utara dan 124°44’00” Bujur Timur. Secara administratif berada di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara. Ketinggian Gunung Soputan sekitar 1.784 meter di atas permukaan laut.

"Aktivitas vulkanik Gunung Soputan di permukaan umumnya dicirikan oleh hembusan gas maupun pertumbuhan kubah lava," jelasnya.

Setelah 2 tahun istirahat, lanjut dia, Soputan menunjukkan gejala peningkatan setidaknya mulai dari Juli 2018 yaitu di mana jumlah gempa guguran maksimum sekitar 13 kejadian perhari, bulan Agustus 2018 sekitar 18 kejadian per hari, dan September 2018 sekitar 73 kejadian perhari serta puncaknya pada 2 Oktober 2018 jumlah gempa guguran maksimum sekitar 193 kejadian per hari.

"Peningkatan yang teramati selama 3 bulan tersebut kemudian dijadikan dasar bagi Badan Geologi melalui PVMBG untuk mengirimkan peringatan dini berupa VONA dengan Color Code YELLOW pada 2 Oktober 2018 pukul 18:46 WIB dan juga berupa peningkatan status aktivitas Gunung Soputan dari Level II (Waspada) ke Level III (Siaga) pada 3 Oktober 2018 pukul 01:00 WITA dengan rekomendasi zona bahaya berada di dalam radius 4 km dengan perluasan secara sektoral ke arah Barat-Baratdaya sejauh 6.5 km dari puncak," paparnya.

Rudy menjelaskan, status aktivitas Gunung Soputan masih berada pada Level III (Siaga) dengan rekomendasi zona perkiraan bahaya berada di seluruh area di dalam radius 4 km dari puncak dan perluasan sektoral sejauh 6,5 km dari puncak ke arah Barat-Baratdaya.

"Masyarakat di sekitar Gunung Soputan dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan dari kemungkinan hujan abu," tutupnya. (OL-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya