Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KASUS kebohongan sempurna yang dilakukan oleh Ratna Sarumpaet dilihat dari kacamata psikolog klinis dan forensik A Kasandra Putranto, kemungkinan merupakan bagian dari profil kepribadian, yang menjadi sebuah kebiasaan alias terjadi berulang.
Umumnya seseorang melakukan kebohongan dengan beberapa alasan antara lain pertama karena takut akan akibat dari kejujuran, kemudian kedua bahwa pelaku ingin menutupi kenyataan tertentu dan memiliki intensi tertentu.
Alasan keempat, karena ingin mendapatkan perhatian dan yang kelima karena merupakan bagian dari profil kepribadian yang akhirnya menjadi kebiasaan dan bahkan terjadi berulang kali tanpa merasa bersalah.
"Pada kasus ibu RS. Kemungkinan yang mana dari 5 itu harus dibuktikan melalui pemeriksaan," ujar Kasandra saat dihubungi di Jakarta, Kamis (4/10).
Cara mengidentifikasi bisa dilakukan berdasarkan berbagai metode yang sudah diujikan seperti melalui bahasa tubuh, wawancara kognitif dan deteksi kebohongan.
"Sanksi sosial tentu perlu. Tetapi untuk perilaku bohong tentu harus dipelajari konteksnya apakah memenuhi unsur pidana yang ada, apakah penipuan, penggelapan atau pelanggaran ITE. Sanksi sosial jelas perlu disamping sanksi hukum," jelas Kasandra.
Dia menekankan harus memeriksa lebih dalam kasus yang dilakukan Ratna Sarumpaet.
"Saya harus memeriksa dulu," katanya,
Sedangkan kebohongan publik yang dilakukan Ratna, kata Kasandra, harus dibuktikan melalui penyidikan kepolisian, sebelum kemudian menentukan apakah masuk ranah penipuan.
Alasannya marena sudah melibatkan pemalsuan informasi,pencemaran nama baik dengan mendiskreditkan bandara dan warga Bandung.
Ratna juga telah memanipulasi realita dengan berfoto dengan Fadli Zon, live dengan Hanum Rais, melaporkan ke pak PS dan pak AR. Intinya memanfaatkan bengkak wajahnya untuk memperoleh sesuatu dengan tidak wajar
"Sampai dengan sengaja menimbulkan kebencian pada kelompok tertentu. Ini semua tugas polisi,"
Tidak menutup kemungkinan juga ada gejala haus perhatian yang dialami Ratna. Ini terlihat dari ekspresi Ratna yang justru menikmati sorot kamera.
"Tolong pelajari ekspresinya saat press conference yang menyatakan tidak ada penganiayaan. Apakah menurut Anda dia tulus. Apakah dia menyesal. Menurut saya tidak. Dia menikmati disorot jepreten flash,"
Bisa saja ekspresi yang tampak masih berbekas dari pasca operasi plastik. Namun kalau dari pilihan kata sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah.
"Dia masih menyalahkan setan. Dari mata tidak (menyesal). Semua pelaku kejahatan selalu menunduk karena malu atau mengakui kesalahan
Tapi saya tidak boleh menyampaikan sesuatu tanpa pemeriksaan. Walaupun dengan keahlian saya dan pengalaman 26 tahun sudah bisa membaca. Dia harus diperiksa lebih lanjut semoga saya ditugaskan untuk memeriksa 'ibu' itu," terang Kasandra.
Namun kemungkinan lain juga terbuka, bila apa yang dilakukan Ratna berasal dari tekanan oknum tertentu. Sebab polisi menduga dana operasi plastik berasal dari dana donasi Toba karena menggunakan rekening yang sama.
"Mungkin saja (ada tekanan). Tapi yang jelas RS ini tidak pintar. Dia tidak tahu digital forensik masa kini sudah sangat maju. Polisi menduga dana oplas dari dana donasi Toba karena menggunakan rekening yang sama. Itu jejak digital. Bisa saja ada seseorang memberi ide," tukas Kasandra. (OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved