Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PENERAPAN teknologi yang tepat sangat penting dalam kesiapsiagaan dan mitigasi bencana. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah mengembangkan sejumlah teknologi yang dapat dijadikan peringatan dini tsunami dan gempa bumi.
Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Alam BPPT, Hammam Riza, menyampaikan peneliti di BPPT tengah merintis pengembangan buoy pendeteksi tsunami jenis lain, yakni cable based tsunameter (CBT).
Perangkat itu dapat dipasang di laut, tidak lagi mengapung di permukaan seperti buoy dan dapat terhubung dengan kabel listrik dan data.
Hammam menjelaskan teknologi tersebut telah diterapkan di banyak negara diantaranya Jepang dan Amerika Serikat. Berbeda dengan buoy yang pemeliharaannya menelan banyak biaya, CBT lebih efisien dalam perawatannya.
CBT merupakan teknologi tsunami, menggunakan kabel optik yang diletakan di bawah laut dengan dilengkapi sensor untuk mendeteksi tekanan dasar laut. Dari sana akan didapatkan data tinggi gelombang sebagai peringatan dini tsunami sebelum sampai ke daratan.
"Pemasangan CBT lebih mahal modalnya tapi operasionalnya lebih murah. Biaya perawatannya pun demikian," terang Hammam dalam acara temu media terkait Teknologi untuk Mitigasi dan Antisipasi Bencana, di Gedung BPPT, Jakarta, Kamis (4/10).
Dijelaskan Hammam lebih jauh bahwa pemasangan buoy dapat menelan biaya hingga miliaran rupiah, sedangkan untuk pemeliharaannya sekitar 10 hingga 20% biaya pemasangan karena ada bagian yang harus diganti. Untuk teknologi CBT, diperkirakan biaya yang dihabiskan mencapai triliunan rupiah.
Kendati demikian, ia mengatakan apabila Indonesia bisa memanfaatkan kabel palapa ring yang sudah terpasang dan dilengkapi sensor untuk mendeteksi tsunami, maka biaya pemasangan CBT dapat dikurangi.
"Oleh karena itu, kami mengusulkan adanya sinergi. Kita ingin CBT menjadi program nasional, kita sudah memiliki sistem komunikasi kabel laut bagian dari upaya broadband roadmap melalui Palapa Ring, kami berharap ada niat dari pemerintah untuk bisa mengembangkannya menjadi sistem deteksi untuk tsunami," papar Hammam.
BPPT sempat memasang buoy buatan sendiri pada 2006 lalu, tapi karena minimnya dana riset dan mahalnya ongkos pemeliharaan, membuat proyek tersebut tidak dilanjutkan. Selain itu, buoy juga dirusak atau dicuri. Sehingga buoy yang ada di Indonesia, tak ada lagi berfungsi dengan baik.
Insinyur kelautan di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Iyan Turyana menjelaskan karena luasnya wilayah Indonesia, buoy tetap dibutuhkan sebagai alat deteksi dini tsunami. Sebab CBT tidak akan dapat mengkaver semua seluruh wilayah khususnya daerah yang diperkirakan rawan tsunami
Selain CBT, BPPT juga menginisiasi survei laut menggunakan data batimetri. Tujuannya untuk mendapatkan gambaran kondisi laut dalam. Para peneliti di BPPT menyakin bahwa akibat gempa dan tsunami di Provinsi Sulawesi Tengah, struktur dasar laut berubah baik status geologinya dan geodinamik. Data tersebut nantinya diharapkan dapat dijadikan untuk mitigasi bencana. (OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved