Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SONGKET dengan motif pintu Aceh dibawakan oleh Yurita Puji di Milan Fashion Week SS 2019 pada Sabtu (22/9) lalu. Busana yang ditampilkan di panggung Principe di Savoia, Piazza Della Repubblica, Milan, Italia oleh Yurita itu ialah pakaian ready to wear yang mewah dengan permainan warna merah, hijau, biru, emas, dan hitam.
Dengan tampilan garis desain yang simpel, Yurita menghadirkan enam koleksi didominasi dengan blazer, jaket, blus, yang semuanya lengan panjang. Keindahan motif tenun Aceh ini juga dipercantik dengan aksesoris dari Jeany Wang yang juga menampilkan pinto atau pintu Aceh dan beberapa ciri dari ornamen khas daerah Serambi Makkah.
"Pintu Aceh mempunyai makna tersendiri. Saya terinspirasi setelah bertemu dengan pengusaha putra Aceh yang sangat peduli dengan daerahnya yakni H Ng Yani Paripurna," tutur Yurita dalam keterangannya yang diterima, Senin (1/10).
Ia juga menceritakan pengalamannya yang unik sebelum tampil di pergelaran busana bergengsi di kota mode dunia tersebut.
“Bagi saya, Milan Fashion Week SS 2019 ini benar-benar mengajarkan saya bagaimana kuasa Yang di Atas seketika dapat menjadikan sesuatu terjadi atau tidak terjadi. Saat terbang dari London ke Milan, koper saya sempat hilang, mengurusnya 3 hari tidak pakai tidur, apalagi baju yang akan ditampilkan di situ semua. Jadi saya jalan antara Malpensa dan Bergamo, dua bandara di Milan hanya untuk mengurus koper dan mencari keberadaan koper. Ternyata kopernya ada di London. Usaha terakhir saya adalah meminta bantuan dari Kemenlu dan KBRI di London," kata Yurita mengisahkan pengalamannya.
Ia pun bersyukur ketika akhirnya mendapatkan koper yang berisi busana-busana untuk dipamerkan itu hanya 1 jam sebelum acara.
"Saya langsung memulai kerja dan buat saya ini keajaiban dan kehendak Tuhan dan doa dari banyak orang," ujarnya.
Kain songket atau tenun Ikat tradisional Aceh merupakan kerajinan tangan yang dilakukan secara tradisional dan turun menurun dengan menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) dan benang emas sebagai hiasannya.
Hasil tenun berupa kain songket itu digunakan untuk berbagai keperluan seperti pakaian adat Aceh, hiasan meja, hiasan dinding, hantaran pernikahan, dan tentu saja bisa dijadikan cenderamata khas Aceh.
Adapun motif pinto atau pintu Aceh hanya salah satu dari ratusan motif khas Aceh. Pintu Aceh berbentuk ramping dengan jeruji-jeruji yang dihiasi motif kembang ditambah lagi sebagai pelengkap dengan rumbai-rumbai sepanjang kedua sisi.
Desain pintu Aceh diperoleh dari monumen peninggalan Sultan Iskandar Muda bernama Pinto Khop. Monumen yang sekarang dijadikan taman rekreasi itu terletak di tepi Sungai Daroy. Konon dulunya sebagai pintu belakang Istana Keraton Aceh khusus untuk keluar masuknya permaisuri Sultan Iskandar Muda beserta dayang-dayangnya menuju ke tepian sungai untuk mandi.
Taman tersebut diberi nama Tanian Putroe Phang (Taman Putri Pahang), nama sang permaisuri. Dari desain gerbang kecil Pinto Khop itulah diambil motif untuk perhiasan yang bernama pintu Aceh ini. (RO/OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved