Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH lokomotif uap tua berwarna hitam dengan cat merah di beberapa bagiannya, tampak kontras di antara hijaunya rerumputan. Lokomotif tua peninggalan zaman Belanda itu dulunya dipakai sebagai pembangkit listrik di lokasi penambangan timah.
Tak jauh dari sana, terlihat pula belasan mangkuk raksasa yang dalam kegiatan pertambangan digunakan sebagai tempat melebur bijih timah. Kedua benda bersejarah itu menjadi penanda keberadaan Museum Timah Indonesia (MTI) di Provinsi Bangka Belitung.
Terletak di Jalan Ahmad Yani No 179 Kota Pangkalpinang, museum itu menghuni bekas rumah dinas Hoofd Bureau Banka Tin Winning (BTW) yang dibangun Belanda pada 1915.
MTI didirikan pada 1958 dengan tujuan mencatat sejarah pertimahan di Bangka Belitung dan memperkenalkannya pada masyarakat luas. "Museum timah ini bisa dibilang jadi yang pertama di Asia," ucap Kepala MTI Pangkalpinang, Muhammad Taufik, belum lama ini.
Koleksi MTI Pangkalpinang berjumlah 200 item, mulai lokomotif dan alat-alat penambang timah kuno, berupa rantai kayu, gayung kayu, hingga belincong tambang.
"Benda-benda itu merupakan bukti penambang timah kuno, hampir semua peralatan terbuat dari kayu berusia puluhan hingga ratusan tahun," bebernya.
Demikian juga dengan balok-balok timah dari abad ke-8 Masehi dan batu prasasti Kota Kapur yang bisa dilihat di sana. Dari prasasti inilah, sejarawan memastikan adanya kerajaan besar Sriwijaya yang menguasai bagian selatan Sumatra, Pulau Bangka dan Belitung hingga Lampung.
Di Museum Timah Indonesia, pengunjung juga bisa mendapati berbagai batuan granit di Babel, diorama tambang timah metode sumur Palembang. Peralatan eks penunjang kerja kantor semasa PT Timah masih bernama Unit Penambangan Timah Bangka (UPTB) bisa dijumpai di sana.
Kejayaan timah di Bangka Belitung juga bisa dilihat dari sederet foto aktivitas penambangan timah pada zaman penjajahan Belanda yang masih tersimpan rapi. Sejak dibuka pada 2013, setiap harinya ramai dikunjungi wisatawan. "Hingga Agustus 2018 kemarin tercatat 16 ribu orang. Kami buka setiap Senin-Kamis dan Sabtu Minggu kecuali Jumat dan hari libur nasional tutup. Gratis tidak dipungut biaya," sebut Taufik.
Selain merekam kegemilangan timah di Bangka Belitung, museum ini juga menjadi saksi perundingan RI dan Belanda hingga lahirlah Roem-Royen Statement pada 1949.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved