Menikmati Masalah-Masalah Orang Kaya

Iis Zatnika
29/9/2018 08:40
Menikmati Masalah-Masalah Orang Kaya
()

SELALU menarik saat orang kebanyakan menyimak polah sosialita, dengan tas tangannya, yang harga paling murahnya senilai rumah sederhana di pinggiran Jakarta. Mereka pun menolak tua dengan wajah yang diizinkan diintervensi pisau bedah dan suntikan. Mobilitas mereka pun selalu menarik minat karena foto-foto media sosialnya yang lokasinya berpindah

negara dalam hitungan hari. Pendeknya, memang akan lebih mudah jika bibir ini nyinyir.

Kemudahan, keindahan, kesenangan, dan kepopuleran melekat pada sosoknya yang wangi dengan aura mahalnya yang menguar ke sekitar. Buku Masalah Orang Kaya, terjemahan dari judul aslinya, Rich People Problems karya Kevin Kwan sesungguhnya pun serupa.

Ia merayakan segala kemilau itu, tetapi dengan cerdik membuat kita, para jelata, akhirnya bersyukur. Nyatanya, para orang kaya itu pun juga punya sisi sepi, dangkal, licik, hitam, terpuruk, di antara semua aksesori dunia yang ia nikmati.

Kwan dalam bukunya yang merupakan trilogi paling akhir dari novel yang mengupas fenomena orang kaya Asia, menampilkan semua sisi itu dengan objektif, dan yang paling keren, didasari riset mendalam. Kini, episode pertamanya dipajang di rak terdepan toko-toko, seiring dengan demam fi lm yang juga berjudul sama dengan bukunya, Crazy Rich Problem. Sukses kisah yang memang sangat fi lm ini pun, diikuti novel keduanya, China Rich Girlfriend.

 

Riset mendalam

Tingkat kerenyahan cerita Kwan, sebanding dengan keva lidan, di antaranya ketika ia mengisahkan kehebohan pesawat Singapore Airlines yang diminta kembali ke Bandara Sydney setelah mengudara 38 ribu kaki di langit Jawa Timur, Indonesia.

Detail dan teknis dipaparkan dengan tepat, saat Kwan memaparkan urutan pola komunikasi pilot dengan petugas navigasi udara di Indonesia. Bukti lainnya bahwa novel ini asyik dibaca sambil menghirup kopi, sekaligus memacu hasrat untuk mencari tahu banyak hal melalui mesin pencari di internet, juga ditemukan di halaman-halaman awal, ketika Kwan menjadikan World Economy Forum di Davos sebagai latar belakang.

Di antara kegenitan bahasanya, kecerdasan buku ini terbukti ketika ia menggambarkan para pria perlente di acara itu menandai kelasnya dengan membiarkan jam tangan mahalnya tertutup setengah lengan jas, tak kentara, tetapi diatur presisi. Jalinan cerita dalam novel bersampul biru itu mengungkap banyak fakta dalam forum yang selama ini terlalu dibingkai serius oleh para wartawan.

Tentu jenaka dan sangat menyentuh ketika Kwan bisa menceritakan ada aroma persaingan yang sengit, juga dangkal, dari para pengusaha, untuk mendapatkan kartu identitas dengan beragam klasifi kasi. Ini istimewa karena buat khalayak Indonesia, pun banyak negara yang tengah bangkit ekonominya, World Economy Forum kini banyak dipuja dan didewa-dewakan sebagai pengungkit bagi banyak pelaku wirausaha sosial untuk mendapat suntikan dana.

Pun, novel ini menjadi re levan buat mereka yang bergelut di dunia bisnis, bahkan tengah belajar bisnis di kampus karena ada banyak strategi pemasaran dan usaha yang terselip di antara keruwetan hidup para tokoh.

Cara Luka, seorang asisten perancang bernama Giambattista Valli yang piawai memacu hasrat belanja para perempuan penggila adibusana, menggambarkan strategi butik mahal memaksa konsumennya yang punya akses terhadap seluruh fasilitas agar terus menggesek kartunya di sana.

 

Masalah klan Shang-Young

Semua kepandaian menulis Kwan itu, pada akhirnya membuat kisah tentang kehebohan klan Shang-Young, orang-orang Tiongkok yang sebagian besar

bermukim di Singapura, pada kondisi sang nenek, Su Yi, yang sakit, sedap disantap. Patut pula awas dengan nama-nama tokoh karena jumlahnya mencapai belasan dan rawan menimbulkan kebingungan. Namun, Kwan memang tampaknya sengaja menghadirkan banyak karakter karena ini adalah novel tentang fenomena, pun judul menyertakan kata people, orang-orang.

Dari sekian banyak nama, Kitty Pong, patut mendapat perhatian. Di antara perilakunya yang glamor dan angkuh, membeli baju karya perancang termahal selalu rangkap tiga, untuk disimpan di Singapura, Shanghai, dan Beverly Hills, dan seringkali kemudian melupakannya begitu saja, pun tingkahnya yang minus, diam-diam merobek gaun yang dibuat terinspirasi dari lukisan dengan sulaman dan bordiran batu-batu mulia, sosoknya manusiawi belaka. Dilahirkan dari orangtua yang bekerja sebagai petugas kebersihan, pintar, tetapi digagalkan kultur patriarki dengan dijegal masuk universitas, Kitty sesungguhnya ambisius, kuat sekaligus mengerikan. Sosoknya, sekonyong-konyong juga akan membawa imajinasi terhubung dengan Jack Ma, sang pendiri Alibaba. Suami Kitty, Jack Bing, disebut Kwan sebagai orang kedua .terkaya di Tiongkok.

 

Orang kaya Indonesia

Bukan cuma disebut dalam cerita tentang pesawat yang membawa dokter pribadi Su Yi, diperintahkan kembali oleh Security and Intelligence Division, lembaga intelijen setara CIA dan MI5, Indonesia pun mendapat porsi dalam sosok Wandi Meggaharto Widjawa, kawan Kitty Pong, perempuan

Indonesia. Aih, jeli juga Kwan tak lupa mengabsen keterlibatan sosialita negeri ini yang juga gemar wira-wiri di Singapura. Kiat terbaik saat membaca buku ini, simak pelan-pelan, nikmati setiap gemerlap dan kejenakaannya. Jangan lupa, cermati catatan kakinya, dijamin tak kalah lucu jika dibandingkan dengan cerita utamanya, kerap memaksa tertawa kecil. Mari menertawakan orang-orang kaya itu, juga kita! (M-4)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya