Hutan Sejahterakan Rakyat

Denny Parsaulian Sinaga
29/9/2018 07:00
Hutan Sejahterakan Rakyat
(MI/MOHAMAD IRFAN)

SEKTOR kehutanan telah mampu menyejahterakan masyarakat, terutama di sekitar hutan. Kini banyak bentuk kesatuan pengelolaan hutan (KPH) yang sudah menjadi sumber penghidupan rakyat.

“Seharusnya sudah terjawab, bahwa hutan menyejahterakan rakyat. Tapi kan butuh yang konkret,” kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya yang didampingi Dirjen Pengelolaan Hutan Produksi Lestari Hilman Nugroho di Hutan Pinus Mangunan, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (27/9).

Di Kalimantan Selatan (Kalsel), ujarnya, hutan tanaman rakyat karet digarap bekerja sama dengan pabrik ban. Di Pati, Jawa Tengah, kerja sama dilakukan dengan Majelis Ulama Indonesia dan industri kacang.

Ia berharap model pengelolaan hutan oleh masyarakat seperti itu bisa dilakukan di setiap daerah. “Nanti juga diproyeksikan misalnya kelompok masyarakat di Karawang kerja sama dengan great giant pineapple untuk membuat jus besar-besaran,” tambahnya.

Menurut Menteri LHK, bila skema tersebut berhasil, dalam jangka menengah dan panjang di berbagai daerah akan muncul pusat-pusat ekonomi domestik bersamaan dengan hadirnya produk unggulan lokal masing-masing.

Menteri LHK juga mengapresiasi dengan semakin banyaknya ekowisata di Pulau Jawa yang berkembang sangat cepat. Menurutnya, aksesibilitas objek ekowisata tersebut perlu lebih dioptimalkan.

Ketika ia berkonsultasi kepada Presiden, lanjutnya, Presiden menyatakan aspek ekowisata tumbuh karena kondisi hutannya baik, pemandangannya bagus, dan akses menuju lokasinya juga bagus. Karena itu, Presisen menyarankan agar KLHK terus mendorong pengembangan ekowisata.

Ia kemudian menyebutkan sejumlah objek ekowisata, antara lain hutan pinus dan Taman Nasional Gunung Merapi di Yogyakarta. Sayangnya, memurut Siti, hasil sektor kehutanan tersebut tidak dihitung dalam statistik produk nasional bruto, atau gross national product. Produk kehutanan tersebut tidak dihitung sebagai sesuatu yang bernilai ekonomi.

“Padahal, sebetulnya kehutanan itu juga menyerap dan menyiapkan kesempatan kerja yang luas. Hitung-hitungan kita dengan jumlah HTI (hutan tanaman industr) dan HPH (hak pengusahaan hutan) yang ada, setidaknya menyerap sekitar 47 ribu kesempatan kerja,” katanya.

Festival KLHK
KLHK sejak kemarin hingga hari ini juga menggelar Festival Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Tingkat Nasional dan Pa­mer­an Usaha Kehutanan (Pusaka) di Hutan Pinus Mangun­an. Festival diikuti KPH dari seluruh provinsi dan dunia usaha. Dalam kesempatan itu, dunia usaha menawarkan sekitar 6.000 lowong­an kerja dan tawaran beasiswa untuk sekolah dasar (SD).

Hutan Pinus Mangunan dipilih sebagai lokasi acara karena hutan seluas 29 hektare tersebut merupakan salah satu contoh keberhasilan dalam memanfaatkan potensi hutan untuk kese­jahteraan masyarakat. Potensi hutan yang dikembangkan di lokasi tersebut ialah ekowisata berupa hutan pinus yang menyajikan pemandangan alam yang indah.

Selain itu, terdapat hasil hutan bukan kayu, di antaranya madu dan minyak kayu putih. Siti menyebutkan perolehan dari hutan tersebut mencapai Rp10 miliar per tahun. (H-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya