Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SUARA mesin pompa air mulai terdengar pada Kamis (20/9) sore itu. Mesin itu mengangkat air dari sebuah sumur bor yang terletak di pinggiran sawah di Dusun Nglanggeran Kulon, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dari situ air disalurkan ke bak penampungan di salah satu rumah warga. Tak berselang lama, mesin pompa lainnya menyala dan melakukan hal yang sama.
Begitulah salah satu cara masyarakat Desa Nglanggeran mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari. “Aktivitas ini sudah berlangsung cukup lama, sejak saya kecil,” ujar Sugeng Handoko, 30, salah satu warga.
Kepala Desa Nglanggeran, Senen, 54, mengaku sumber mata air yang terletak di pinggiran sawah Dusun Nglanggeran Kulon itu ialah salah satu sumber mata air yang banyak dimanfaatkan warganya. Itu sudah berlangsung sangat lama. “Namun, dulu masih model ngangsu (mengangkut) dengan bawa ember,” kata Senen kepada rombongan media dalam acara perjalanan konservasi bersama Pejuang Air Ades.
Dulu, kata Senen, ada sekitar 500 titik sumber mata air yang bisa dimanfaatkan warganya. Bentuknya bermacam, ada belik seperti yang diceritakan Sugeng, atau berbentuk sumur pompa dan sumur yang masih manual dengan kedalaman 12-30 meter, bergantung pada letaknya.
Kondisi berubah ketika gempa bumi bermagnitudo 5,9 melanda Yogyakarta pada 2006. Sekitar 50% sumber mata air hilang.
Warga kemudian membuat sumur bor dan berbagi air. Namun, itu belum bisa mencukupi kebutuhan warganya di Desa Nglanggeran yang mencapai 2.700 jiwa yang tersebar di 5 Dusun, 5 RW, 23 RT, dan 823 kepala keluarga (KK).
Ketika kemarau tiba, sebagian dusun mengalami kekeringan dan terpaksa membeli air dengan harga Rp130 ribu-Rp150 ribu per tangki. Senen memperkirakan setiap harinya kebutuhan air untuk 1 rumah tangga berkisar 1 meter kubik.
Pada sumber mata air yang masih bisa dimanfaatkan, salah satunya sumber mata air Belik, warga harus menambah kedalamannya.
Belik yang sudah berubah menjadi sumur bor bersama itu mampu mengairkan air ke RT 14 dan 15 yang bisa mencukupi kebutuhan sekitar 268 jiwa. Di sekitar Belik, sekarang ada 27 mesin pompa air.
Ubah kesemrawutan
Meski secara umum kebutuhan air warga dapat dipenuhi sumber mata air Belik, masalah belum sepenuhnya selesai. Pengambilan air terus-menerus dapat mengancam kelestarian mata air tersebut. Karena itu, upaya konservasi harus dilakukan.
Upaya itulah yang dibicarakan dalam kegiatan perjalanan konservasi tersebut. Pada malam harinya, warga dan 10 pemuda dari program Sobat Air Ades berkumpul untuk membantu Pejuang Air Ades, Sugeng Handoko, melakukan konservasi air di Nglanggeran.
“Alhamdulillah, saya terpilih sebagai Pejuang Air Ades dan Ades membantu kami mewujudkan mimpi konservasi air di Nglanggeran,” ujar Sugeng Handoko yang mengaku memiliki mimpi memperkuat sistem pengairan dengan memperbaiki pengelolaan sumber mata air dan pembangunan sumur resapan di Nglanggeran.
Sugeng ingin sekali melakukan konservasi air yang berkelanjutan di Nglanggeran. Menurutnya, sumur bor yang sekarang dipakai bersama-sama harus dikelola dengan baik agar aliran air lestari hingga generasi-generasi selanjutnya.
Pengelolaan yang warga Nglanggeran lakukan ialah dengan merapikan pipa dan kabel di sumur bor bersama. Ada tiga langkah yang warga lakukan. Pertama, listrik yang tadinya mengalir dari tiap-tiap rumah warga, dijadikan satu jalur. Kedua, pipa-pipa penyalur air yang semrawut ditata menjadi dua jalur. Terakhir, pompa air yang tadinya berjumlah 27 digabung menjadi satu pompa air.
Menurut Pratomo, Direktur Yayasan Obor Tani, yang mendampingi warga Nglanggeran merapikan sumber mata air, listrik akan disatukan dalam satu jalur dengan meteran tersendiri dan kabel ditanam dalam tanah, sedangkan pipa yang tadinya semrawut dijadikan menjadi dua jalur. Pipa pertama menyalurkan air ke RT 14 dan pipa kedua menyalurkan air ke RT 15.
Agar air mengalir dengan baik, Pratomo merencanakan memaksimalkan tandon air yang sudah ada. Di RT 14 ada 2 tandon berkapasitas 7 kubik dan 15 kubik yang akan mengalirkan air untuk sekitar 138 jiwa. Sementara itu, di RT 15 akan dibangun tandon air baru untuk kapasitas 5 kubik yang akan mengalirkan air untuk sekitar 130 jiwa.
Menabung air
Upaya konservasi air yang dilakukan Sugeng Handoko sebagai Pejuang Air Ades di Nglanggeran tidak hanya merapikan sumur bor. Bersama warga dan Sobat Air Ades, Sugeng membuat sumur resapan sebagai upaya menabung air untuk persiapan cadangan air di musim kemarau dan generasi selanjutnya.
Menurut Puji Pratiknyo, 58, peneliti hidrogeologi dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, menuturkan pembuatan sumur resapan bisa menjadi salah satu solusi konservasi air di wilayah Nglanggeran.
Pada jutaan tahun silam, lanjut Puji, wilayah Nglanggeran merupakan daerah lautan. Hal itu menurutnya bisa dilihat dari adanya formasi batuan hasil endapan air laut. “Banyak sekali formasi kumpulan batuan,” katanya.
Kondisi itu membuat sulitnya memprediksi cadangan atau debit air di Nglanggeran, Kabupaten Gunungkidul. Di Kota Yogyakarta, Sleman, sampai Bantul, batuannya merupakan produk Gunung Merapi yang baru dan banyak batuan yang bisa menyimpan air di dalam tanah atau air tanah.
Itu berbeda dengan daerah Nglanggeran atau di gunung api purba yang batuannya sudah mengeras dan sulit menyimpan air. Terlebih posisi Gunungkidul curah hujannya sangat kurang. “Salah satu upaya yang dilakukan adalah membuat sumur resapan,” katanya.
Sumur resapan, lanjut Puji, dapat menyimpan air hujan untuk digunakan di musim kemarau. Menurut rencana, warga akan membuat 50 titik sumur resapan di RT 14 dan RT 15 Dusun Nglanggeran. (FU/M-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved