Wayan Andy Karyasa Membalas dengan Beri Bantuan

(*/M-3)
21/9/2018 22:40
Wayan Andy Karyasa Membalas dengan Beri Bantuan
(MI/SUMARYANTO BRONTO)

BERBAGAI pengalaman buruk dalam hidup sering Wayan Andy Karyasa. Mulai dari kelaparan, dilarang sekolah, ingin bunuh diri, dan masih banyak lainnya membuat Wayan hampir menyerah dalam hidupnya. Hidup dari keluarga kurang mampu yang dan memiliki 8 saudara dan salah satunya meninggal dunia akibat kelaparan. Ayah dan ibunya yang bekerja sebagai buruh tani membuat keadaan ekonomi dari Wayan kurang beruntung. Ia pun hanya tinggal di rumah gedeg, rumah yang terbuat dari anyaman bambu dan berukuran 3X4 saja.

"Rumah hanya gedeg, bolong-bolong dari anyaman bambu. Luasnya 4X5 atau 3X4 kecil sekali. Satu kakak saya yang pertama meninggal karena kelaparan, yang kedua dan ketiga hampir meninggal juga karena kelaparan," ungkap Wayan.

Kedua kakaknya bisa tertolong karena kakek dari ibu Wayan mengambil mereka. Kondisi yang sulit membuat keluarga Wayan tidak bisa menyekolahkan anak-anak mereka. Wayan pun membiayai sekolahnya dengan berjualan air yang dia ambil dari sungai kepada tetangganya hingga tingkat SMA.

Namun perjuangannya tidak henti di situ. Guna mencapai sekolah, pria yang akrab disapa Andy ini harus berjalan naik turun bukit tanpa alas kaki hingga kelas 5 SD. Pernah waktu Andy pingsan dalam perjalanan ke sekolah karena kelaparan. Andy tidak pernah membawa uang saku untuk bersekolah dan tak pernah sarapan ketika ia harus berjalan jauh menuju sekolahnya membuat kondisi fisiknya melemah. Ia pun sebenarnya dilarang orangtuanya bersekolah karena ia dianggap menghindar dari pekerjaan. Untuk belajar pun sangat sulit bahkan Wayan harus sembunyi-sembunyi untuk belajar.

"Kalau siang saya dianggap menghindari pekerjaan. Kalau malam saya dianggap menghabiskan minyak, karena lampu yang kami pakai merupakan lampu minyak. Di rumah juga tidak menggunakan listrik karena keluarga tak mampu untuk membayar listrik," lajut Wayan mengenai kondisi keluarganya pada saat itu.

Andy mengaku memiliki trauma dan sangat membenci ibunya. Pasalnya ia kerap dimarahi dan tidak diberi makan. Bahkan saat SMP ia selalu bermimpi ingin membunuh ibunya. Andy pun selalu memiliki keinginan untuk bunuh diri dengan berbagai macam cara, seperti menggantung diri di pohon, lompat ke laut, dan banyak hal lainnya.

Pandangan itu berubah saat ia sadar ibunya bukan tidak menyayanginya, namun keadaan yang membuatnya bersikap seperti itu. Bahkan Andy saat ini menyayangi ibunya. Perubahan tersebut berawal ketika ia tamat SMA dan bekerja di luar kampungnya. Saat pulang kampung ia melihat seorang nenek yang tengah kelaparan dan Andy sangat ingin membantu nenek tersebut namun bingun dalam pelaksanaannya.

"Akhirnya saya nodong teman-teman saya dan mengumpulkan uang untuk membantu nenek tersebut dan membelikannya beras, itu awalnya. Sebelumnya saya memang mengalami bagaimana kondisi miskin itu seperti apa dan kondisi hidup dan mati seperti apa. saya merasakan dan saya pengen bagaimana cara saya menolongnya. Jadi saya mulai gencar menodong teman untuk melakukan bantuan," ungkap Andy.

Sejak 2012, Andy mulai memanfaatkan media sosial Facebook untuk memberikan bantuan. Ia menamai gerakan ini Relawan Bali dan banyak bantuan yang berhasil diberikan Andy. Ratusan relawan dari seluruh Bali telah bergabung untuk membantu. Bahkan Andy bisa mengumpulkan donasi Rp100 juta perharinya dari gerakan ini. Andy berprinsip tidak perlu menunggu kaya untuk memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya