Suparjiyem Sejahterakan Perempuan dengan Tiwul

Despian Nurhidayat
15/9/2018 11:00
Suparjiyem Sejahterakan Perempuan dengan Tiwul
(MI/SUMARYANTO BRONTO)

KECEWA kerap mendapatkan penolakan saat melamar pekerjaan, Suparjiyem lalu membuang ijazah SMA-nya. Ternyata langkah perempuan asal Desa Wareng, Wonosari, Gunung Kidul, ini membuang ijazahnya membuka pintu yang lain.

Perempuan yang dijuluki pahlawan atau pendekar pangan lokal ini berhasil mengangkat derajat makanan berbahan singkong, tiwul. Melalui kelompok tani yang ia bentuk sejak 1989, Suparjiyem berhasil mendorong masyarakat menghargai pangan lokal yang berasal dari singkong ini.

Perkenalan Suparjiyem dengan tiwul berawal dari SD. Di kalangan teman-temannya, ia termasuk anak yang sejahtera. Pasalnya, ia selalu dibawakan bekal nasi oleh orangtuanya. Sedangkan teman-temannya hanya membawa tiwul. Lucunya ia selalu membagi-bagikan nasi yang ia bawa kepada teman-temannya. Sementara Suparjiyem memilih mengonsumsi tiwul.

"Orangtua saya kan PNS, waktu itu kan selalu dapat jatah beras. Jadi saya selalu bawa bekal nasi dan temen-temen saya bawa tiwul. Tapi saya malah tidak pernah memakan nasi itu, karena kok ya bisa ya temen-temen saya itu makan tiwul terus lauknya itu cuma sambel kambil (sambal kelapa) sama pencok deli," ungkap perempuan berusia 56 tahun ini.

Hingga kini, Suparjiyem lebih memilih memakan tiwul dan gaplek sebagai pangan sehari-hari. Ibu dua anak ini menilai tiwul membuat ia merasa kenyang lebih lama. Di samping itu, kandungan karbohidrat tiwul lebih tinggi dibandingkan nasi.

Suparjiyem juga mengganggap tiwul lebih sehat daripada nasi. Pasalnya, saat proses penanaman singkong tidak menggunakan bahan kimia.

"Menurut saya tiwul itu justru lebih sehat, karena perlakuannya hanya tanaman numpang, bukan tanaman khusus kayak padi. Jadi kalau padi kita pupuk pakai kimia, kalau nanti kena hama kita semprot pakai kimia. Tapi kalau singkong, itu hanya tanaman nunut, jadi dia ndak ada perlakuan khusus untuk memupuk kimia," ungkap wanita asal Gunung Kidul Yogyakarta ini.

 

Kelompok tani

Sudah 20 tahun Suparjiyem membentuk kelompok wanita tani menur (WKT). Kelompok tani ini merupakan wadah bagi para perempuan untuk bisa mengembangkan diri mereka.

Selain itu Suparjiyem sengaja memilih nama menur untuk kelompok taninya. Menur sendiri merupakan bunga kecil yang bila mekar memiliki harum yang luar biasa.

Pendirian Kelompok WKT pun bukan tanpa dasar. Falsafah mereka berdasar pada peribahasa Jawa yaitu ojo jaga ke hasile wong lanang tok atau bisa diartikan jangan hanya mengandalkan hasil jerih payah laki-laki.

Di WKT para perempuan ini tidak sebatas belajar tentang budidaya singkong. Mereka pun belajar mengolah umbi-umbian ini pascapanen. Singkong yang sudah dipanen diolah menjadi kripik singkong, ceriping tales, tepung gembili, tepung uwi, penyek kacang hijau, krecek dari singkong, tapolo (olahan dari singkong), yang kemudian dijual ke berbagai warung.

Ternyata hasil kreasi singkong para kelompok WKT ini tidak hanya di daerah sekitar, tapi sudah di beberapa daerah di Indonesia. Bahkan makanan sorgum, sudah dikirim ke Jepang.

Tidak berhenti di situ, Suparjiyem pun melakukan pendekatan kepada pemerintah. Ia menggagas konsumsi rapat atau pertemuan yang dilakukan pemerintah menggunakan makanan yang berbau lokal. Sehingga mereka bisa memopulerkan makanan lokal. Akhirnya pemerintah daerah mendukung upaya Suparjiyem dalam pelestarian makanan lokal.

Kerja keras Suparjiyem mengangkat derajat tiwul berbuah manis. Tiwul memang terkenal sebagai makanan yang biasanya dikonsumsi masyarakat kurang mampu. Suparjiyem pun diganjar sejumlah penghargaan atas kerja kerasnya. Salah satunya Female Food Heroes Indonesia dari Oxfam pada 2013. (M-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya