Profesional Vs Entrepreneur

Retno Hemawati
14/9/2018 02:30
Profesional Vs Entrepreneur
(MI/Adam Dwi)

PASAR tenaga kerja yang menuntut keahlian dan keterampilan yang kian spesifik memacu pesatnya pertumbuhan industri pendidikan dan dunia kewirausahaan. Ditambah lagi, banyak di antara kita yang mendambakan ingin mempunyai usaha sendiri karena bagaimanapun setiap orang selalu menginginkan sesuatu yang lebih.

Namun, masalah yang dihadapi sekarang ini ialah peluang untuk bisa bekerja di perusahaan yang baik sangat sulit karena remaja sekarang memiliki keinginan kuat untuk membangun bisnis sendiri juga kian sulit. Belum lagi memikirkan cara membuat produknya, membangun market, dan lain-lain sehingga tidak mengherankan apabila banyak di antara kita yang memilih menjadi pegawai saja karena dengan menjadi pegawai/karyawan setiap bulan pasti dapat gaji.

Faktor lain juga ada berapa banyak orangtua yang mengarahkan anak-anaknya untuk  menjadi pengusaha, coba bandingkan dengan orangtua yang menyuruh anak-anaknya agar bercita-cita jadi pegawai.  

Melihat budaya masyarakat kita inilah memang sepertinya opsi kedua yang lebih banyak. Kebanyakan dari kita menginginkan anak-anak agar punya cita-cita dengan profesi-profesi yang dianggap lebih menjanjikan ketimbang jadi pengusaha.

Hal itu membentuk pola berpikir (mindset) terbiasa dengan bercita-cita untuk menjadi dokter, pilot, PNS, insinyur, dan profesi lainnya. Bahkan, dulu hampir tidak ada pendidikan yang mengarahkan kita untuk menjadi pengusaha dan kebanyakan ujung-ujungnya kita disuruh untuk menciptakan lapangan kerja. Akan tetapi, di sisi lain, kita tidak pernah dibimbing untuk tahu bagaimana caranya menciptakan lapangan kerja.

Lulus sekolah atau lulus kuliah ialah ajang dimulainya menyebarkan surat lamaran. Ratusan lamaran pekerjaan dikirimkan ke berbagai perusahaan. Bahkan, rela mendatangi satu demi satu perusahaan-perusahaan itu. Tak jarang mereka malah diusir security yang bosan menghadapi pertanyaan lowongan kerja.

Terobosan
Jalan terbaiknya ialah memang dengan berani untuk melakukan terobosan atau membuka usaha sendiri. Dengan mempunyai usaha sendiri, berarti kita mempunyai peluang untuk bisa meningkatkan pendapatan bulanan kita, walaupun memang dibutuhkan banyak waktu dan usaha serta doa untuk menggapainya. Akan tetapi, dapat dipastikan apabila dengan berusaha sendiri, kita akan memperoleh hasil yang sesuai dengan usaha yang kita lakukan.

Tidak sedikit pula dari mereka yang beranggapan bahwa membuka usaha sendiri hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang terlahir dari keluarga kaya yang bisa meminta modal seenaknya kepada orangtua. Padahal, untuk menjadi seorang wirausaha, kita tidak melulu harus punya uang/modal.

Bahkan, hanya dengan modal ide gagasan kreatif dan inovatif pun Anda sudah bisa menjadi seorang wirausaha dengan cara menjual ide Anda atau bergabung dengan orang yang mempunyai modal, atau meminta pinjaman dari pihak bank/penyandang dana dengan bunga rendah.  

Semua bidang usaha pasti memiliki risiko, bahkan saat kita menjadi karyawan sekalipun ada risiko pemotongan gaji atau dipecat. Namun, apakah kemudian kita harus menyerah sebelum berperang?

Jawabnya dapat ditemukan dalam program Big Circle yang kali ini hadir bersama enam orang mentor hebatnya untuk membahas keresahan anak muda di Indonesia.

Enam mentor hebat itu ialah Billy Boen Founder Young on Top, Arto Soebiantoro CEO Gambaran Brand, Danton Sihombing CEO Inkara Brand Consulting, Veronica Colondam Billy Boen Founder Young on Top Founder & CEO YCAB Foundation, William Tanuwijaya CEO Tokopedia, dan Yorris Sebastian Founder & Creative Thinker OMG Consulting. (H-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya