Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMBUKAAN pameran dwitunggal seniman terkenal Bali I Ketut Budiana dan Ida Bagus Putu Sena terselenggara dengan sukses di Museum Puri Lukisan Ubud, Bali, Kamis (6/9) lalu. Pameran Budiana bertemakan 'Whirling' dan Sena yang bertajuk 'Muter Tattwa' masih dapat disaksikan hingga 1 Oktober mendatang.
Masyarakat Ubud dan sekitarnya, termasuk wisatawan dalam dan luar negeri, antusias melihat karya dua seniman tersebut. Pengunjung pun membeludak sehingga harus keluar masuk bergantian untuk melihat karya seni Budiana dan Sena.
Budiana memamerkan tiga lukisan masing-masing berukuran sekitar 2 meter x 3 meter. Masing-masing lukisan saling terkait dan menjadi satu kesatuan serta kehidupan.
Karakter lukisan Budiana memang sangat kuat. Memiliki aura mistis sekaligus karismatik, yang dituangkan dalam bentuk karya tidak biasa.
Di lukisan pertama, kelahiran, Budiana banyak menggunakan warna merah dan paduan oranye kuning. Dikemas demikian, karena menurutnya, kelahiran menciptakan sejumlah emosi, yakni sedih dan bahagia.
Lalu pada lukisan kedua, seniman kelahiran Padang Tegal, Ubud, Bali itu, ingin bercerita tentang kehidupan. Ada energi untuk mempertahankan hidup. Di sini manusia berlomba-lomba mencapai apa yang dia inginkan dalam hidup. Tanpa disadari bahwa selalu ada bahaya yang mengintai dalam setiap langkah mereka. Diwujudkan dalam bentuk naga yang siap menerkam.
"Tapi tidak lupa saya gambarkan wanita di lukisan ini, sebagai sosok bumi. Ibu pertiwi. Sedangkan sosok pria merupakan simbol air. Air dan bumi bersatu menjadi kehidupan," papar seniman yang ramah dan murah senyum ini, Senin (10/9).
Budiana menekankan, sebenarnya bumi ini sudah memberikan lebih kepada manusia. Hanya kadang manusia yang kurang bersyukur.
Sedangkan di lukisan ketiganya, dia tidak banyak bermain warna. Hanya ada warna hitam, putih, dan abu-abu. Siapa pun yang melihat bisa merasakan kedamaian dan dunia tanpa riak.
Seniman, yang salah satu lukisannya berjudul 'Kekuatan Ibu' menjadi salah satu dari 100 karya terbaik di Museum Fukuoka, Jepang, itu di lukisan ketiga tersebut seolah ingin menggambarkan kehidupan setelah kematian.
"Sosok manusia (bukan wanita, bukan juga pria). Berjalan ditemani seekor anjing berwarna hitam," ujarnya sembari menunjuk gambar yang dimaksud.
Anjing atau asu menjadi perlambang dosa dan darma. Menurutnya, pada akhirnya saat kematian yang ditimbang adalah kebaikan dan keburukan semasa hidup.
Budiana berpandangan, orang yang sudah meninggal tidak bisa lagi merasa. Dia hanya tinggal menerima takdir. Apakah menuju nirwana atau neraka.
Sedangkan Sena konsisten memadukan karakter perwayangan dengan nuansa kekinian. Dia mengganggap tokoh wayang dapat mewakili keadaan dan karakter saat ini.
Seniman yang konsisten mempertahankan gaya lukis tradisional Bali itu enggan beranjak mengikuti arus. Dia lebih suka bermain dengan pemikiran dan belajar menyelami hidup. Di saat banyak seniman muda beralih kepada teknik yang lebih modern, Sena ajeg. Dia tidak beranjak, tetap pada pakem.
Menurutnya, akar budaya dan ajaran agama Hindu-lah pijakannya dalam berkarya.
"Kalau saya ingin mempertahankan warisan budaya sendiri. Yang dianggap bagus oleh orang lain, tapi harus keluar dari pakem tradisi. Itu saya tidak mau. Saya bertahan dengan karakter saya. Pertahankan budaya warisan Bali," ungkap ayah tiga anak ini.
Sena lebih banyak bermain dengan pikiran-pikirannya. Menurutnya, di saat orang-orang lebih suka menghakimi, dia memilih sebagai penengah. Seperti dalam karyanya berjudul 'Sinar dalam Kegelapan'.
Dia mencontohkan tentang wanita pekerja seks komersil (PSK) seringkali dianggap hina. Mereka diperlakukan sewenang-wenang, seperti mereka bukan manusia.
"Tanpa orang menyadari sejatinya mereka juga seorang ibu. Bagaimana mereka melakukan itu bukanlah keinginan mereka. Ketimbang kita menghakimi, lebih baik berkaca apakah kita sudah lebih baik daripada wanita itu," cetus seniman kelahiran Banjar Tebesaya, Ubud, ini.
Di setiap karya lukisnya, Sena selalu menampilkan sosok karakter wayang. Dia mengganggap tokoh wayang dapat mewakili keadaan dan karakter saat ini.
Karya seni Sena bak sebuah kelir (wayang). Dia adalah dalangnya. Audiens seakan mendapatkan pertunjukkan wayang diatas kanvasnya. Wajar saja, karena inspirasinya adalah Kitab Ithiasa, yang berisi kisah Ramayana dan Mahabarata. Dikemas dengan kekuatan sastra yang tinggi.
"Nilai-nilai agama sangat menginspirasi karya saya," ujarnya.
Menggunakan teknik abur (sigar mangsi) diterapkan berlapis-lapis dan digarap dengan sangat telaten.
"Melukis bukan sekedar menggurat bentuk dan menyapu kuas. Tapi merupakan proses renungan yang dalam. Karena saya harus paham dulu tentang apa yang dilukis. Agar karya saya bisa tersampaikan dengan baik kepada masyarakat," ungkap seniman yang memiliki kekuatan hiperdetail dalam lukisannya itu.
"Kedua seniman kali ini memilih secara kebetulan tema yang serupa. Whirling memiliki arti berputar. Sedangkan muter tattwa merupakan konsep perputaran bumi yang berakar dari agama Hindu," ungkap kurator seni, Jean Couteau, dalam pembukaan pameran tersebut.
Kedua seniman ini, kata dia, sama-sama bertanya tentang posisi manusia dialam semesta ini.
"Bagaimana pada akhirnya di ujung kehidupan bisa menyatu dengan sang pencipta. Mereka mampu merumuskan teknik lukis dan bahasa baru dalam seni lukis tradisional Bali. Ini luar biasa," pujinya.
Dia sangat optimistis kedua seniman besar ini dapat mengembangkan jati diri seni lukis Bali di Indonesia dan dunia. Hadir dalam pameran ini Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati yang membuka pameran ini serta Sultan Cirebon, maestro lukis Indonesia Sidik W Martawidjojo.
Daniel Jusuf, selaku penyelenggara pameran tersebut, mengaku bangga. Apalagi, pameran tersebut mendapat respons positif dari tamu dan masyarakat Bali.
"Luar biasa ramai. Mereka rata-rata mengakui kehebatan dua seniman ini. Sangat kuat dalam penggambaran objek, unik, khas. Dan lebih penting lagi, sarat makna filosofis," ujar Daniel. (RO/OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved