Meringankan Beban Pasien Kanker dengan Rumah Singgah

R Mohammad Zen
08/9/2018 19:34
Meringankan Beban Pasien Kanker dengan Rumah Singgah
Ketua Pembina YKI Karlinah Umar Wirahadikusumah (kanan/duduk) dan Pengurus YKI--MIcom/M.Zen(Ketua Pembina YKI Karlinah Umar Wirahadikusumah (kanan/duduk) dan Pengurus YKI--MIcom/M.Zen)

TIDAK sedikit penderita penyakit kanker dari luar Jakarta yang harus menjalani pengobatan di Jakarta, karena  belum  lengkapnya fasilitas  pengobatan yang tersedia di daerahnya. Namun begitu sampai di ibukota, muncul kendala yang dialami penderita karena biaya hidup yang tinggi serta tempat tinggal/penginapan selama menjalani pengobatan.

Yayasan Kanker Indonesia (YKI) mencoba membantu meringankan beban penderita kanker dengan menyediakan Sasana Marsudi Husada (SMH) sebagai Rumah Singgah Pasien Kanker yang diresmikan Ketua Pembina YKI ibu Karlinah Umar Wirahadikusumah disaksikan segenap pengurus YKI di Jalan Lebak Bulus Tengah, Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu (8/9).

Menurut Ketua Umum YKI Prof.DR.dr. Aru Wicaksono Sudoyo, SpPD,KHOM,FACP bahwa rumah singgah ini baru saja selesai pemugarannya sejak berdiri 35 tahun lalu.

"Keberadaan rumah singgah SMH sedari awal merupakan upaya mewujudkan misi YKI sebagai tempat tinggal sementara bagi pasien kanker dari luar kota yang sedang menjalani pengobatan di Jakarta, sebagai tempat penginapan yang layak dan murah bagi pasien yang sebagian besar tidak mampu," ujar Aru.

"Harapan kami gedung SMH ini dapat lebih bermanfaat bagi masyarakat khususnya pasien-pasien kanker yang membutuhkan dan dapat membantu pemerintah dalam upaya menanggulangi masalah kanker di Indonesia," kata Aru menambahkan.

Di tempat yang sama, Ketua Tim Pembangunan Gedung/Wakil Ketua II Dewan Pembina YKI Prof. dr. Abdul Muthalib, SpPD, KHOM mengatakan bahwa rumah singgah SMH terdiri dari tiga lantai. Di lantai pertama terdapat 10 kamar standard dan 4 kamar VIP, lantai 2 terdiri atas 4 kamar untuk paliatif serta aula berkapasitas 100 orang yang dapat dibagi menjadi 3 ruang kelas untuk pendidikan dan pelatihan. Sementara lantai 3 berupa aula tempat pertemuan berkapasitas 100 orang sebagai ruang pertemuan dan pelatihan.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada masyarakat dan perusahaan yang telah ikhlas sebagai donatur untuk membantu pembangunan rumah singgah ini, sehingga lebih banyak pasien kanker yang dapat kita bantu bersama," kata Abdul.

Kendati bersifat sosial, bukan berarti penderita kanker terbebas dari biaya selama tinggal di rumah singgah, namun tetap tidak akan memberatkan secara keuangan.

"Untuk membantu biaya operasional SMH, pasien dikenakan biaya 50.000 per hari, dan kepada mereka disediakan makan tiga kali dan snack dua kali setiap harinya. Jika penderita benar-benar tidak mampu, kami bantu mencarikan donatur buat mereka," ujar Abdul lagi.

Selain sebagai rumah singgah, gedung yang mampu menampung maksimal 28 pasien ini juga memiliki auditorium yang bisa disewa oleh masyarakat untuk berbagai kegiatan seperti seminar dan lainnya. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya