Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SOSOK Perry Tristianto mungkin sudah familier di sebagian masyarakat Indonesia. Ia merupakan pengusaha yang pernah dijuluki sebagai 'Raja Factory Outlet' (FO) di Bandung. Pasalnya, ia merintis sejumlah FO di Bandung yang kini jumlahnya mencapai 27 outlet. Keputusannya membuka FO karena melihat pasar ekspor Indonesia pada saat itu sangat bagus.
"Saya lihat waktu itu Indonesia ekspornya bagus lalu saya melihat produk-produk yang kelebihan. Dari sana diuntungkan tahun 1998 kita krisis di mana barang-barang branded cukup mahal lalu barang sisa ekspor meskipun ada sobeknya dibeli orang," jelas Perry.
Bisnis factory outlet-nya pun dapat dibilang sukses bahkan mampu bertahan hingga kurun waktu 10 tahun. Keputusannya dalam terjun ke bisnis factory outlet bisa dibilang unik. Dirinya melawan arus dengan membuka factory outlet justru di jalan yang sepi, bukan di daerah yang sudah ramai dan sudah tercipta pasarnya.
"Saya tidak senang memasuki pasar, tapi saya senang menciptakan pasar. Jadi, jalan yang sepi bagaimana menjadi ramai dan membuat macet. Jadi semacam ada kepuasan sendiri, jika macet," imbuhnya.
Meskipun dirinya ialah seorang pengusaha sukses, Perry pernah meninggalkan bangku kuliah. Dirinya pernah sampai berkuliah hingga tingkat 2 di Universitas Parahyangan, tetapi dirinya memutuskan keluar dan memilih berusaha pelihara ayam.
Keputusannya itu karena Perry merasa jangka waktu kuliah 5 tahun yang harus diselesaikan terlalu lama. Makanya, ia mencari kampus yang menyediakan masa kuliah 2 tahun yang ada di Stamford, Singapura. Dirinya pun berhasil bersekolah di Singapura dari hasil usahanya memelihara ayam.
Kembangkan bisnis
Sebelum menjadi pengusaha, setelah lulus kuliah di Singapura, dirinya sempat menjadi seorang direktur di sebuah perusahaan rekaman. Namun, perusahaan tersebut bangkrut. Perry bisa dibilang seorang yang memiliki kejelian membaca pasar.
Disaat pasar factory outlet mulai kurang diminati, dirinya melebarkan bisnisnya ke industri kuliner dan pariwisata. Pada 2004, dirinya merambah bisnis kuliner dengan menciptakan Rumah Sosis yang berbekal tampilan produk yang unik. Lalu dirinya pun membuat kuliner Tahu Susu.
Di sektor pariwisata, Perry menggandeng para pemilik kuda dengan membangun De Ranch. Di saat yang sama ia menggandeng para pelaku UMKM yang menjual berbagai macam kuliner tradisional khas Jawa Barat yang dijual di atas perahu dengan membangun Floating Market, serta Farm House Lembang yang dilengkapi dengan rumah maupun kostum sewaan ala Eropa. Usahanya tersebut dapat dibilang sukses dan mampu menyedot ribuan pengunjung setiap harinya.
"Karena tempat saya, yaitu Bandung dan sekitarnya membutuhkan orang-orang untuk datang ke sana, makanya saya berpikir apa lagi yang harus dibuat agar tetap menarik karena gaya hidup orang kemauannya macam-macam. Saya hanya mengikuti kemauan orang. Ide Floating Market muncul karena kebetulan ada danau lalu saya buat Floating Market dengan isinya makanan-makanan Jawa Barat, semuanya pedagang pinggir jalan yang saya masukan kurang lebih sampai 140 pedagang," jelasnya.
Konsep
Menurutnya, salah satu kunci yang membuatnya sukses dalam berjualan ialah dengan menjual konsep yang unik. Konsep itu yang ia dorong bagi para pengusaha-pengusaha muda yang sedang ingin berbisnis meskipun sudah memiliki gelar S-1.
"Kalau mau jualan asal punya konsep. Mau jualan apa pun anak muda sekarang kan S-1, anak S-1 kalau kerja berapa sih, tapi kalau jualan di pinggir jalan kita bisa melihat bisa naik haji, bisa umrah, bisa beli tanah. Kenapa mereka tidak mau ke sana? Ya bikin konsep, misalnya, jualan satai ramai kita jual satai helm, maksudnya jualannya pake helm atau topeng biar tidak malu kan bisa buat konsep seperti itu," jelasnya.
Selain itu, Perry pun berpesan jika ingin menjadi seorang pengusaha jangan menjadi investor, tetapi jadi pengusaha. (M-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved