KBI Gelar Pelatihan Juru Bicara Pancasila

Micom
05/9/2018 17:45
KBI Gelar Pelatihan Juru Bicara Pancasila
(Ist)

SELAMA empat hari kemarin, ada perhelatan yang cukup menarik perhatian, yakni Pelatihan 1.000 Juru Bicara Pancasila. Pelatihan ini melibatkan 40 orang peserta berasal dari beragam latar belakang, seperti aktivis mahasiswa, perwakilan dari organisasi keagamaan Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, hingga penghayat kepercayaan.

Selain penguatan isu kebangsaan, mereka juga dilatih keterampilan menulis, berdebat, dan manajemen media sosial. Pelatihan ini sendiri diselenggarakan oleh Komunitas Bela Indonesia sejak Jumat (31/8) hingga Senin (3/9) di Hotel The Rizen, Bogor, Jawa Barat.

Anick HT, Koordinator Program KBI, menyatakan bahwa pelatihan ini dibuat mengingat ancaman intoleransi dan terorisme saat ini sudah pada tahap yang sangat mengkhawatirkan, yakni melibatkan keluarga, termasuk anak-anak kecil.

Untuk itu, Pancasila sebagai ideologi bangsa yang menjadi perekat terbaik yang dimiliki bangsa ini perlu didengungkan ulang, bahkan digelorakan atau di marketingkan.

Pengelolaan media sosial menjadi salah satu titik tekan penting dalam pelatihan ini.

"Beberapa riset menunjukkan, di dunia media sosial saat ini ternyata follower para influencer atau tokoh masyarakat yang menyebarkan konten negatif lebih banyak daripada yang kontennya positif," ujar Anick, dalam keterangannya, Rabu (5/9).

Ada yang menarik juga dari salah satu narasumber pelatihan tersebut, yakni KH Mohammad Monib. Pengasuh Pondok Pesantren Fatihatul Quran Bogor ini menceritakan pengalaman pribadinya sebagai mantan radikalis yang telah insyaf dan sudah kembali menjadi pancasilais.

"Saat itu, seperti santri-santri lain, saya juga menganggap orang di luar saya salah semua, dan cenderung memusuhi mereka.

Bahkan bersalaman dengan non-muslim bagi saya adalah najis," paparnya.

Cerita narasumber tersebut mengilhami peserta betapa doktrin tertentu yang tertutup memang potensial membuat orang berpikir untuk menegasikan orang lain yang berbeda.

Pelatihan ini nampak dipersiapkan dengan serius untuk membuat juru bicara yang ditargetkan 1.000 orang dari 25 provinsi melakukan kerja-kerja kebangsaan secara sistematis dan masif.

Komunitas ini sendiri telah memproduksi buku rujukan utama berjudul Rumah Bersama Kita Bernama Indonesia, yang ditulis oleh Denny JA dan tim.

Di samping itu, menurut penjelasan Anick HT, mereka juga menyiapkan seluruh materi, baik isu maupun skill, berupa slide power point maupun dalam bentuk serial video, untuk dimanfaatkan oleh khalayak yang hendak mengadakan pelatihan sejenis di mana pun.

"Kami ingin sebanyak mungkin elemen bangsa ini peduli terhadap keutuhan dan kedamaian negeri ini. Dan setelah peduli, lalu melakukan sesuatu, sekecil apa pun.

Jika Anda berminat, ikuti informasinya di akun kami: @jaringankbi," papar Anick mengakhiri perbincangan.

Pelatihan untuk peserta Jabodetabek itu sendiri merupakan pelatihan pertama dari rangkaian 25 pelatihan sejenis di 25 provinsi yang akan dibuat oleh KBI.

Di akhir pelatihan, semua peserta sepakat untuk mendeklarasikan KBI Jabodetabek yang akan melakukan kerja-kerja dan kampanye kebangsaan. Dan dalam waktu dekat, KBI Jabodetabek juga menyepakati untuk membuat program lanjutan bertajuk 'Camp of Love'.

Program kemah ini akan mempertemukan kaum muda lintas agama dalam satu kemah bersama untuk merekatkan dan menjembatani anak-anak muda dengan latar belakang yang beragam untuk berinteraksi dan memperbincangkan keberagaman.

Secara khusus mereka menyasar generasi muda dan generasi milenial, mengingat kerentanan mereka yang cukup tinggi terhadap paparan ujaran kebencian dan potensi konflik yang saat ini sangat mewarnai dunia maya. (RO/OL-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya