Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
HINGGA kini Indonesia belum dapat memproduksi vaksin flu burung secara mandiri. Padahal, flu burung atau Avian influenza berpotensi menjadi ancaman penyakit pandemik.
Kepala Pusat Analisis Determinan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Pretty Multihartina mengatakan Indonesia belum memproduksi vaksin tersebut karena setiap gejala berbeda-beda gen atau strain dari virus tersebut. Di sisi lain, ketiadaan kapasitas untuk membuat vaksin merupakan hal riskan apabila terjadi pandemi flu burung.
“Yang ada saat ini ialah vaksin influenza musiman. Negara yang melakukan surveilans lebih baik telah memprediksi jenis virus apa yang akan muncul tahun ini dan harus menggunakan vaksin apa yang sesuai,” katanya dalam Pertemuan Koordinasi dan Penyusunan Rencana Kerja Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Berpotensi Pandemi di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) di Jakarta, Rabu (5/9).
Ia mengungkapkan beberapa lembaga penelitian mulai mengembangkan bibit vaksin dari varian virus flu burung yang ada. Meski belum dapat memproduksi vaksin sendiri, pemerintah siap menanggulangi bila kejadian luar biasa dan pandemi penyakit yang berasal dari hewan (zoonosis) terjadi. “Pemerintah sudah punya program bila ada kejadian luar biasa melalui simulasi,” tutur Pretty.
Menurutnya, dalam membangun sistem penanggulangan pandemi dibutuhkan koordinasi lintas sektor. Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pertanian bakal sangat berperan soal bagaimana penyakit itu bisa masuk ke Indonesia.
Hal senada disampaikan Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan Kemenko PMK Sigit Priohutomo. Menurutnya, penguatan lintas sektor diperlukan dalam menanggulangi penyakit pandemik yang mungkin terjadi di Tanah Air. Meskipun Indonesia cukup baik dalam menekan pandemi seperti flu burung beberapa tahun ini, komitmen koordinasi khususnya terkait pesebaran informasi masih kurang.
“Di internasional, kita dinilai oleh negara-negara yang sangat peduli dengan masalah ini dengan nilai C. Artinya baik, tapi mitigasinya perlu ditingkatkan,” katanya.
Secara kemampuan, lanjutnya, Indonesia juga memiliki infrastruktur survelains penyakit pandemik yang kuat, meliputi laboratorium dan tenaga ahli. Namun, yang perlu di-tingkatkan ialah kewaspadaan bersama.
Investasi penelitian
Dirjen Sumber Daya Iptek dan Pendidikan Tinggi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek-Dikti) Ali Ghufron menyampaikan investasi lebih besar untuk penelitian dalam menghadapi pandemi akan lebih baik. Menurutnya, penelitian terutama dibutuhkan untuk penguatan sumber daya manusia dalam membangun surveilans penyakit pandemik yang mengancam Indonesia.
USAID Deputy Mission Director Ryan Washburn yang juga hadir dalam acara itu mengatakan Indonesia telah membuat langkah dalam mengembangkan integrasi sistem untuk mendeteksi, mencegah, dan merespons ancaman pandemi. Meski demikian, diperlukan komitmen lebih lanjut guna memastikan sistem tersebut dapat terus berjalan dengan baik. (H-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved