Isu Keberagaman Perlu Lebih Dikedepankan dalam Pemberitaan

Nurjiyanto
05/9/2018 21:05
Isu Keberagaman Perlu Lebih Dikedepankan dalam Pemberitaan
(thinkstock)

MASIH seringnya media siber memberitakan isu keberagaman dari sudut pandang konflik menjadi hal yang diperhatikan oleh Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk) serta Aliansi Jurnalis Independen Jakrta untuk melakukan diskusi terkait hal tersebut.

Direktur Sejuk Ahmad Junadi dalam riset yang dilakukan terhadap 4 media siber nasional terkemuka pada kurun waktu 2017 menjelaskan 66,2% pemberitaan dalam isu keberagaman masih mengangkat dari segi konflik.

Meski demikian, para responden yang mayoritas merupakan para reporter menuturkan proses verifikasi lebih utama ketimbang kecepatan mengunggah berita tersebut.

"66,2% isu pemberitaan terkait keberagaman masih mengangkat terkait konflik tersebut. Meski demikian, mayoritas responden yakni para wartawan masih berpandangan proses verifikasi masti didahulukan ketimbang kecepatan mengunggah berita tersebut di media siber," ujarnya dalam diskusi bertajuk 'Media Siber dan Keberagaman' di bilangan Cikini, Jakarta, Rabu (5/9).

Ketua Divisi Advokasi AJI Jakarta Erick Tanjung menuturkan beberapa isu sensitif cenderung meledak dimasyarakat karena adanya efek bola salju. Dimana pemberitaan tersebut muncul dan diangkat oleh berbagai media namun kurang memperhatikan kaidah pemberitaan media siber.

Adanya pola pemberitaan berlanjut dalam media siber memang merupakan ciri dari industri media siber. Namun dirinya menuturkan pemberitaan dalam media siber pun dapat ditulis secara utuh dan menyeluruh agar para pembaca pun dapat mendapatkan informasi secara jelas.

"Karena beberapa kasus terkait isu agama terjadi karena efek bola salju ditambah dengan penulisan yang agak diluar kaidah-kaidah jurnalistik," ungkapnya.

Hal tersebut pun menurutnya menjadi tantangan yang perlu dihadapi oleh para wartawan dan media-media siber dalam pemberitaan yang berkaitan dengan isu-isu sensitif.

Dikesempatan yang sama, Manajer Program dan Advokasi Sejuk Tantowi Anwari menuturkan saat ini media masih enggan mengangkat isu-isu sensitif terkait keberagaman dalam pemberitaan. Pasalnya, hal tersebut dirasa perlu dikarenakan untuk media dapat langsung melakukan verifikasi agar isu-isu tersebut tidak menjadi informasi yang keliru dan berkembang khsusunya melalui media sosial.

"Misalnya isu Komunisme dan LGBT, media-media besar cara posisinya masih jarang. Kalau tidak diberitakan, di medsos lebih liar, harus ada verifikasi dari media arus tengah," ungkapnya.

Dalam diskusi tersebut juga hadir beberapa praktisi media siber. Salah satunya, Mustakim, yang merupakan editor di vivanews.com, menerangkan, di beberapa kondisi isu-isu sensitif terkait keberagaman dapat berdampak negatif bila dalam hal verifikasi dan penulisan kaidah-kaidah jurnalistik tidak diterapkan.

Hal tersebut menurutnya menjadi tantangan dalam industri media siber khususnya agar sebuah berita dapat disuguhkan secara komperhensif dan utuh. Sehingga berita tidak menyuguhkan informasi yang hanya setengah-setengah saja.

"Ketika kesadaran orang terhadap keberagam itu muncul. Kalau ditulis jadi tulisan pendek itu tidak menarik, itu baru bagus ketika dijadikan indepth reporting. Problemnya tidak semua media mau dan wartawannya juga mau. Tapi sebenarnya itu mungkin dilakukan," ungkapnya. (OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya