Universitas Terbuka Didorong jadi Perguruan Tinggi Terbaik Berbasis Daring

Puput Mutiara
06/9/2018 08:30
Universitas Terbuka Didorong jadi Perguruan Tinggi Terbaik Berbasis Daring
Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi M Nasir (kanan) didampingi Rektor UT Ajat Darojat hadir dalam Dies Natalies UT ke-34 di Kampus UT, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (4/9/2018).(MI/Susanto)

DUNIA pendidikan saat ini tengah dihadapkan pada era baru revolusi industri 4.0. Itu artinya, seluruh stakeholder termasuk perguruan tinggi dituntut untuk dapat mampu mengimbangi perubahan fundamental yang terjadi termasuk digitalisasi.

Universitas Terbuka di usia ke-34 saat ini telah berhasil membuktikan bahwa dengan menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh berbasis daring (online), mampu menjangkau pendidikan anak bangsa hingga ke seluruh pelosok negeri bahkan luar negara.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir bukan sekadar mengapresiasi, tetapi juga berharap UT ke depan akan menjadi universitas terbaik yang mampu menerapkan sistem pembelajaran secara daring.

"Ibarat pepatah, menjadi tua itu pasti menjadi dewasa adalah pilihan. Sehingga UT kalau mau menjadi perguruan tinggi terbaik itu harus terus diupayakan, tidak perlu menunggu 50 tahun," ujarnya saat menghadiri peringatan Dies Natalis ke-34 UT di Tangerang Selatan, Banten, Selasa (4/9).

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi M Nasir saat melakukan teleconference dengan mahasiswa UT di seluruh Indonesia dalam Dies Natalies UT ke-34.

Terlepas dari layanan pendidikan di Indonesia yang secara umum masih dinilai kurang, menurut Nasir, UT dapat dijadikan contoh untuk menjadikan perguruan tinggi melek teknologi. Dalam artian, mulai sistem pembelajaran sampai ujian dilaksanakan secara daring.

Selain mempermudah mahasiswa dalam proses belajar mengajar, tujuan pemerintah untuk dapat meningkatkan angka partisipasi kasar (APK) perguruan tinggi juga dapat tercapai. Karena dengan itu, akses pendidikan kepada masyarakat menjadi lebih terjangkau.

Diungkapkan Nasir, APK perguruan tinggi di Tanah Air saat ini baru sebesar 32,5%. Jauh tertinggal dari Malaysia (38%), Singapura (82), dan Korea Selatan (92%). Hal tersebut mengindikasikan jumlah penduduk Indonesia yang mengenyam pendidikan tinggi masih sedikit.

"Harapan kami pada 2019, APK kita sudah mencapai 35%. Untuk itu, perlu kerja keras kita semua baik PTN maupun PTS," turur mantan Rektor Universitas Diponegoro itu.

Ia pun mendorong UT agar dapat menerapkan sistem perkuliahan dua bahasa (bilingual). Tujuannya bukan semata-mata menjaring mahasiswa lokal, tetapi juga diharapkan bisa bekerja sama dengan perguruan tinggi luar negeri dan mahasiswa asing.

Pun dengan wisuda bila perlu tidak usah datang ke Jakarta, cukup mencetak ijazah jarak jauh sehingga yang kuliah di Papua juga bisa lebih menghemat biaya. Untuk menjamin keaslian ijazah, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah menerapkan sistem yang diberi nama security paper.

"Kalau kita lihat pergerakan UT selama 34 tahun ini sudah luar biasa. Karena UT yang pertama (menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh), jadi saya yakin akan melesat," cetusnya.

Seraya mengamini, Rektor UT Ojat Darojat menyatakan akan terus berusaha meningkatkan layanan kepada mahasiswa UT yang tersebar di berbagai wilayah. Saat ini, Unit Program Belajar Jarak Jauh UT (UPBJJ-UT) telah berjumlah sekian mencakup UPBJJ luar negeri di Hong Kong, Malaysia, dan Singapura.

Rektor Universitas Terbuka (UT) Ajat Darojat menyampaikan sambutan dalam Dies Natalies UT ke-34 di Kampus UT, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (4/9).

Pada pertengahan 2017, UT mulai menerapakan tutorial berbasis web yang memungkinkan mahasiswa dapat berinteraksi langsung melalui web tutor. Selain itu, sistem ujian jarak jauh berbasis daring juga sudah diuji coba di beberapa UPBJJ-UT.

"Hal-hal lain juga sedang kita kembangkan untuk menunjang perkuliahan mahasiswa UT. Harapannya tentu dapat mempermudah sekaligus menjangkau seluruh lapisan anak bangsa tanpa terkecuali," tandasnya.

UT pun kian memantapkan langkah sebagai pelopor cyber university di Indonesia. Boleh dikatakan selama lebih dari sepertiga abad, UT telah berkiprah memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mendapatkan akses pendidikan yang terjangkau, fleksibel, dan berkualitas.

"Sejalan dengan tema Dies Natalis kita ke-34 yaitu Merajut Nusa Membangun Bangsa, UT ingin dapat terus mampu berdiri menjadi garda terdepan dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan perguruan tinggi," paparnya.

Lebih lanjut, menurut Ojat, keberhasilan UT di dalam menjaring mahasiswa baru dari semula hanya 20 ribu mahasiswa kini telah mampu mencapai 60 ribu per semester. Jumlah mahasiswa tersebut tak ayal berdampak pada kepercayaan masyarakat terhadap UT.

Di saat bersamaan, momentum peringatan ulang tahun UT kali ini juga dimanfaatkan untuk melakukan peluncuran buku bertajuk 34 Tahun UT: Cyber University untuk Negeri. Buku tersebut salah satunya berisi arahan Menristekdikti M Nasir agar perguruan tinggi di Indonesia dapat memulai sistem pembelajaran jarak jauh.

"Kami (UT) ditunjuk untuk mengawal dan membantu mewujudkan apa yang dicanangkan Menristekdikti agar perguruan tinggi bisa menjadi cyber university layaknya UT," pungkas Ojat. (OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya