Peran Dosen dan Kampus Strategis Majukan Koperasi Indonesia

Syarief Oebaidillah
30/8/2018 20:35
Peran Dosen dan Kampus Strategis Majukan Koperasi Indonesia
(MI/Susanto)

KEBERADAAN dosen dan kampus penting dan strategis dalam menggiatkan koperasi. Seperti yang dilakukan perguruan tinggi di Amerika Serikat. Negara adidaya ini mewajibkan dosen dan mahasiswa memajukan koperasi dengan masuk menjadi anggota koperasi.

"Di negara maju Amerika ini koperasi penting sekaligus untuk memudahkan mereka mendapatkan semua kebutuhan dengan harga di bawah jika dibandingkan dengan di luar koperasi," kata Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Sri Edi Swasono pada diskusi interaktif Buku Ajar Koperasi Indonesia di Universitas Trilogi, Jakarta, Rabu (29/8).

Kondisi tersebut, menurut ekonom senior itu, berbeda dengan di Indonesia. Ia mengkritisi pengelolaan ekonomi kerakyatan di Indonesia. Koperasi hanya menjadi tempelan dan bukan bagian integral dalam memerkuat ekonomi Pancasila.

"Ekonomi Pancasila itu ekonomi kerakyatan. Ekonomi kerakyatan itu ya koperasi karena sesuai azas Indonesia yang penuh kegotongroyongan," ujarnya.

Ia kembali membandingkan pengelolaan koperasi di negara lain, seperti Belanda. Di negeri kincir angin ini, koperasi dikelola oleh orang-orang hebat di antaranya para guru besar serta pengusaha sukses.

Sebaliknya di Indonesia malah koperasi menjadi tempat hukuman bagi dosen dan mahasiswa yang malas.

"Saya heran, di sini koperasi dinilai hanya sebagai pelengkap. Kalau ada dosen malas enggak bikin jurnal ditaruh di koperasi. Bagaimana bisa maju koperasi kita kalau pengelolanya dosen malas," tukasnya.

Sri Edi juga menyatakan keprihatinannya terhadap pengetahuan siswa dan mahasiswa akan koperasi yang minim. Bahkan banyak lulusan sarjana ekonomi tidak mengerti soal koperasi. Mereka menilai koperasi sebagai perseroan terbatas (PT).

"Koperasi dan PT seperti dua mata uang yang berbeda. Koperasi mengembangkan nilai moral dan etika tanpa mencari keuntungan. PT visinya mencari keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa melihat etika moral," pungkasnya. (RO/OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya