BANYAK perokok berpikir merokok sulit dihentikan. Itu karena proses berhenti merokok yang cukup panjang dan dinamis, mulai dari keinginan, rencana berhenti, mencoba berhenti, kegagalan berhenti, kambuh, mencoba lagi hingga kemudian berhenti total. Faktanya, berdasarkan hasil survei Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok (LM3), dari 375 responden terdapat 66,2% perokok menyatakan pernah mencoba berhenti merokok tetapi gagal. Penyebab utama kegagalan, yaitu akibat ketidaktahuan cara untuk berhenti merokok. Praktisi kesehatan Firzawati mengatakan secara teori perilaku merokok sangat sulit dihentikan karena dua hal yakni faktor ketergantungan dan psikologis. Namun, kesulitan paling utama yang sering dihadapi para perokok adalah masalah ketergantungan nikotin. ''Nikotin secara cepat akan mencapai otak pada saat seseorang merokok. Setelah menghirup asap dari sebatang rokok, kadar nikotin dalam arteri meningkat tajam dalam waktu 15 detik,'' jelas Firzawati saat sidang terbuka promosi doktornya di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Rabu (10/6). Ia melanjutkan, nikotin menstimulasi produksi dopamin secara berlebihan dan membuat tubuh menjadi lebih relaks serta menyebabkan toleransi dan ketergantungan fisik. Sehingga ketika penggunaan tembakau dihentikan, akan timbul rasa marah, tidak sabar, gelisah, dan sulit berkonsentrasi (syndrome withdrawal). Saat ini, kata Firzawati, lebih dari 80% perokok akan mengalami sindrom itu ketika menghentikan kebiasaannya. Sedangkan faktor lain yang semakin mempersulit perokok untuk berhenti merokok, yakni kebiasaan merokok lebih dari 20 batang per hari atau merokok sebelum 30 menit setelah bangun tidur. ''Lebih dari itu, keinginan yang kuat dari seseorang untuk berhenti merokok disertai dengan dukungan lingkungan sekitar akan sangat membantu kesuksesannya berhenti merokok,'' tukas dia. (H-2)