Belajar dari Video dan Peduli Pendidikan

(FD/M-4)
30/8/2018 02:00
Belajar dari Video dan Peduli Pendidikan
(MI/Adam)

RYAN Gondokusumo, 33, tidak berpuas diri dengan kemampuan yang telah dimilikinya. Dalam pengembangan kapasitasnya, ia juga sering memanfaatkan video daring untuk belajar banyak tentang digital marketing hingga running company.

"Setiap malam saya memanfaatkan waktu untuk belajar sesuatu hal yang baru," kata pria kelahiran Jakarta, 16 Januari 1985 itu.

Selain memudahkan, alumnus Program Studi Teknik Elektro Purdue University Amerika Serikat itu menyadari perkembangan teknologi, juga menuntut setiap orang untuk selalu meningkatkan kemampuannya. Pasalnya, pengembangan kemampuan diri sendiri juga berdampak pada cara mengelola bisnisnya. "Saya belajar untuk company dan personal grow. Saya juga sering membaca buku baru," terangnya.

Pria yang masih lajang itu memiliki hobi bermain biliar di sela-sela kesibukanya sebagai pebisnis muda. Olahraga itu ia lakukan bersama-sama teman dan karyawannya.

Pria yang mengawali karier di Wabash Center Greenbush Industries, Indiana, USA itu juga peduli terhadap pendidikan di Tanah Air. Bahkan, ia terlibat aktif di Indonesian Overseas Alumni (IOA) yang fokus terhadap pendidikan dan sekolah di pedalaman.

Ia juga menganggap pendidikan di Indonesia tidak banyak berubah dan cenderung mundur dalam 10 tahun terakhir sehingga kemajuan dan perkembangan teknologi juga tidak mampu diimbangi dengan pembangunan infrastruktur yang memadai dan baik.

Dia mengindikasikan level edukasi yang kurang merata di Tanah Air sebagai biang keladinya. Pasalnya, pendidikan di perkotaan tidak setara dengan peningkatan yang sama di perdesaan.

"Semua perubahan dari pemikiran, perencanaan, dan tanggap terhadap situasinya. Jika level edukasi tidak tinggi, pastinya kerja tidak smart," sebut peraih Eaton's Award nominee for outstanding senior design team itu.

Guna melihat ketertinggalan pendidikan di pedalaman, tim IOA pernah mendatangi sekolah di Sumbawa, NTB. "Kami langsung ke lapangan, ke Sumba melihat sekolah itu bagaimana. Miris, hanya ada satu sekolah di atas bukit. Akses ke sana harus jalan kaki empat jam. Anak-anak rajin sekolah, tetapi sampai ke sana guru tidak ada," kenangnya. (FD/M-4)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya