FORUM Antarumat Beragama Peduli Keluarga Sejahtera dan Kependudukan (Fapsedu) menyesalkan rendahnya partisipasi pria menikah dalam program Keluarga Berencana (KB). Padahal partisipasi itu dapat berkontribusi pada pengendalian penduduk dan menekan tingkat kematian ibu dan anak yang masing tinggi di Indonesia.
“Terkadang pria mau enaknya sendiri. Urusan ber-KB dan tumbuh kembang anak dianggap urusan perempuan semata,†kritik Ketua Badan Pelaksana Fapsedu Tingkat Nasional KH.M.Kholil Nafis, disela acara Pembukaan Musyawarah Nasional I 2015 Fapsedu, di Jakarta, Jumat (5/6).
Menurut Kholil, peran pria pada keberhasilan KB sejatinya cukup besar. Pasalnya, pria yang terlibat dalam fertilitas dapat memberikan dukungan kepada pasangannya mulai dari memilih alat kontrasepsi, melahirkan dan menyusui. Selain itu pria juga bisa menjadi motivator bagi pasangan mereka untuk ikut ber-KB.
Pada kesempatan itu, Kholil menengaskan, agama, khususnya Islam tidak melarang pria untuk menggunakan alat kontrasepsi. Yang tidak boleh, kata dia, jika alat kontrasepsi yang dipilih yang bersifat memandulkan secara permanen.
Ditambahkan, tidak hanya di Indonesia, sejumlah negara-negara Islam juga menyarankan program KB yang bertujuan untuk membina keluarga sejahtera. Bahkan di sejumlah negara Islam, tingkat partisipasi KB prianya lebih tinggi dari pada di Indonesia.
Rendahnya partisipasi pria dalam ber-KB juga dikatakan oleh Direktur Pemaduan Kebijakan Pengendalian Penduduk BKKBN, Sunarto. Mengutip Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 tercatat hanya 4,4%, dengan metode alat kontrasepsi yang dipilih adalah, vasektomi 0,4%, kondom 0,9%, senggama terputus 1,5% dan pantang berkala 1,6%.
Menurut Sunarto, angka ini masih rendah apabila dibandingkan dengan Negara-negara Islam lain seperti Pakistan (10,9%), Banglades (19,1%) dan Malaysia.
Banyak faktor, lanjut Sunarto, yang menyebabkan rendanya partisipasi pria. Penyebab itu antaralain adalah, pengetahuan dan kesadaran pria masih kurang, keterbatasan akses, faktor lingkungan sosial dan budaya yang beranggapan partisipasi pria tidak penting, keterbatasan alat kontrasepsi bagi pria dan sebagainya.
“Peran tokoh masyarakat dan tokoh agama menjadi penting untuk mengajak kaum pria untuk ikut KB,†kata Sunarto.
Pada kesempatan itu, Sunarto juga berharap pemimpin agama lebih berperan aktif dalam mempromosikan program KB. Dia mencontohkan, sebagai dampak dari keberhasila program KB yang telah dilaksanakan dalam tiga dasawarsa terakhir, telah menyebabkan angka ketergantungan penduduk menjadi 50% pada 2010 dan akan terus turun pada angka 47% di 2030.
Kondisi kependudukan dengan jumlah penduduk nonproduktif lebih rendah dari penduduk produktif inilah yang disebut dengan istilah bonus demografi. Di masa itulah Indonesia memiliki peluang emas untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas penduduk Indonesia.
Namun, syarat untuk mencapai peluang di bonus demografi adalah, negara yang bersangkutan harus memiliki kualitas SDM yang memadai. Program KB adalah salah satu cara untuk menciptakan atau merancang generasi yang berkualitas untuk mengisi masa bonus demografi. (Q-1)