FAKULTAS Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta kini terus mengembangkan teknologi informati untuk mengatasi antiforensika digital. Sebab, bersamaan dengan berkembangnya teknologi forensika digital berkembang pula antiforensika digital.
Kepala Pusat Studi Forensika Digital Universitas Islam Indonesia, Dr Yudi Prayudi, Kamis (4/6), mengemukakan perkembangan antiforensika digital harus diakui cukup pesat.
“Antiforensika digital ini dimaksudkan untuk menutupi atau mempersulit pelacakan barang bukti kejahatan digital atau cybercrime,†jelasnya.
Ia mengemukakan aktivitas antiforensika digital itu antara lain memindahkan barang bukti digital atau mengaburkan barang bukti digital.
Yudi menambahkan, salah satu aktivitas yang banyak digunakan adalah steganografi. Dikatakan, steganografi menjadikan sebuah pesan yang akan disampaikan tersembunyi di file lainnya. Bisa jadi, katanya, pesan dengan file berbentuk pdf disembunyikan dalam pesan gambar atau jpeg. “Besarannya bisa mencapai 12% dari besaran file yang nampak,†katanya.
Meski sulit terlacak, imbuhnya, penyembunyian file ke dalam file lainnya itu masih bisa dilacak dengan metode tertentu. Namun, lanjutnya, memerlukan ketelitian, kejelian dan ketekunan.
Yudi mencontohkan pesan tersembunyi pada steganografi bisa jadi hanya berisi virus perusak atau malware seperti yang sempat menghebohkan, “gadis mabuk†di jejaring sosial beberapa waktu lalu.
Ditambahkan, pernah terungkap pula malware jenis ZBOT ternyata juga disebarkan oleh pembuatnya melalui teknik steganografi dengan menyisipkan pada sebuah image bereksistensi jpg.
Namun, lanjutnya, ada pula yang cukup berat, yakni pada pesan yang disampaikan oleh seseorang di Jerman yang menyembunyikan pesan-pesan ke dalam file video.
Polisi Jerman, lanjut Yudi, menyeret orang tersebut sebagai teroris. “Dari hasil ungkap kepolisian di Jerman, pada unggahan video itu ternyata mengandung dokumen tersembunyi yang berisi aktivitas teroris,†katanya.
Kalau hanya dilihat, tambahnya, video itu tidak menunjukkan adanya pesan lain di dalamnya. Apalagi, besaran file juga normal, gambar juga biasa. Namun, ternyata video itu digunakan untuk menyimpan file lainnya. “Inilah steganografi,†tegasnya.
Karena itu, kata Yudi, steganografi sekarang cenderung dimanfaatkan untuk criminal communication. “Pelacakannya sangat sulit,†katanya.
Meski demikian, Universitas Islam Indonesia terus mengembangkan ilmu untuk mengungkap adanya steganografi ini. Meski tidak tegas menyebut, Universitas Islam Indonesia sudah berhasil membuka sejumlah file yang mengandung steganografi.
Ia memperingatkan, pesan-pesan tersembunyi yang bisa jadi berbahaya itu akan terus berkembang, sehingga upaya-upaya untuk meningkatkan kemampuan mendeteksi perlu terus dikembangkan secara cepat dan penguasaan ilmu antiforensika digital itu juga perlu diperluas di kalangan penegak hukum.
Menyinggung keberhasilan Universitas Islam Indonesia, Yudi menjelaskan penelitian menggunakan metode stenganografi DCS pada image dengan Cryptography Blowfish sebagai model Anti Forensik untuk keamanan ganda konten digital.
“Untuk mendapatkan hasil penyebaran konten digital yang aman, kita dapat menggabungkan konsep atau integrasi metode steganography dengan Cryptography,†katanya. (Q-1)