Perguruan Tinggi Perlu Kerja Sama Riset Energi Terbarukan

Syarief Oebaidillah
03/6/2015 00:00
Perguruan Tinggi Perlu Kerja Sama Riset Energi Terbarukan
()
ENERGI terbarukan dibutuhkan guna memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri. Sebab itu,langkanya energi fosil menjadi agenda  penting kalangan perguruan tinggi guna memecahkan masalah tersebut.

Dalam kaitan ini, Universitas Krisnadwipayana (Unkris) Jakarta
mengundang Prof Andreas Gerhard Goldman dari Universitas Berlin atau Technische University Berlin, Jerman, untuk memberikan wawasan dan ilmu pengetahuan bagi civitas akademika Unkris.

"Sebagai insan akademik dan perguruan tinggi kita perlu memberikan perspektif tentang energi terbarukan dan manfaatnya untuk Indonesia. Selain itu, mahasiswa juga mendapat ilmu atau wawasan baru. Dan ini menjadi aset Unkris untuk bekerja sama dengan universitas lain, khususnya dalam penelitian atau riset tentang energi berkelanjutan dan energi terbarukan," kata Rektor Unkris Jakarta Abdul Rivai saat membuka Seminar Internasional bertema "Potential of Sustainability Concepts and Renewable Energy System for Indonesia", di kampus Unkris, Jakarta, Rabu (3/6).

Dekan Fakultas Teknik Unkris Ayub Muktiono menambahkan Unkris akan melakukan kerja sama riset dengan Technische University Berlin. Dia berharap kerja sama ini dapat mengembangkan konsep energi terbarukan juga mendukung pemerintah.

"Kita menatap ke depan bahwa energi fosil akan habis maka energi terbarukan seperti angin, solar cell dan lain-lain menjadi penting," cetusnya.

Sementara Andreas Gerhard Goldman menyatakan kemajuan teknologi dalam energi terbarukan merupakan bagian dari era globalisasi. Sebab itu, mahasiswa harus menyiapkan diri menyambut era itu.

"Sekarang adalah masa awal globaliasasi dan anak muda di Indonesia harus sensitif dengan apa yang terjadi dalam kemajuan teknologi di era globalisasi," kata Andreas.

Dikatakan, di masa depan pengelolaan energi sangat penting. Kalau satu negara dapat mengelola energi dengan baik maka negara itu akan maju pesat. Ia mengaku telah menghitung dan membandingkan energi paling murah antara energi surya, elektrik, gas, dan bensin.

Hemat dia, Indonesia amat potensial mengembangkan energi alternatif, salah satunya energi surya sebab di sini banyak matahari dan angin. Cahaya sinar dari matahari masuk dalam lempengan kaca yang dipasang di atas atap rumah atau gedung kemudian diubah menjadi listrik.

"Ini amat hemat energi. Kita punya matahari yang setiap hari bersinar," cetusnya.

Ia menjelaskan setiap provinsi di Indonesia dapat membangun sentral energi yang menghasilkan listrik. "Jika dibangun pada  setiap provinsi maka sentral-sentra energi listrik ini menjadi desentralisasi," ujar Andreas yang mengaku tidak asing dengan budaya Indonesia karena beristrikan orang Indonesia dari Makasar. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya