Diaspora Jerman Siap Berkolaborasi dengan Ilmuwan Indonesia

Syarief Oebaidillah
23/8/2018 19:00
Diaspora Jerman Siap Berkolaborasi dengan Ilmuwan Indonesia
(Ist)

PADA pertengahan Agustus 2018, Direktorat Sumber Daya Iptek Dikti Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi mengundang 47 ilmuwan diaspora Indonesia yang tersebar di berbagai negara. Mereka menghadiri Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) di Jakarta, 12-18 Agustus lalu.

Selama di Tanah Air, mereka berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman, bersinergi menjalin relasi, serta berkolaborasi guna menghasilkan penelitian gabungan (joint research) dan publikasi bersama ilmuwan dalam negeri, serta membuka kesempatan short course di luar negeri.

Suhendra, diaspora Indonesia yang berkiprah di Jerman selama 15 tahun, menyatakan, siap berkontribusi dan bersinergi dengan akademisi maupun peneliti universitas Tanah Air.

"Saya berharap riset dan pendidikan tinggi Indonesia mampu berkelas dunia seperti pengalaman saya di Jerman. Minimal kita bisa berkolaborasi dan keinginan kami memberi yang terbaik apa yang bisa kita kerjakan bagi Indonesia," kata Suhendra usai berkunjung ke Rektorat dan Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Depok, Kamis (23/8).

Suhendra menempuh studi S-1 di Universitas Diponegoro, Semarang, pada 1993-1998, dan lulus bidang teknik kimia. Ia kemudian melanjutkan S-2 di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan mendapat beasiswa program master double degree di Brandenburgische Technische Universität (BTU) Jerman untuk periode 2000-2002. Jenjang studi S-2 dia selesaikan setahun di ITB dan setahun di BTU.

Menurutnya, program master yang ia tempuh di Jerman dengan riset industri bidang teknik kimia di Max Planck Institute (MPI).

Di MPI, dia meneliti penentuan kinetik pada reaksi kimia. Ini menjadi keahlian spesifik Suhendra. Aplikasinya pada reaksi eksplosif pada material. Ia pun melanjutkan studi S-3 di tempat sama 2002-2006.

Selama 2002-2004, ia memperoleh beasiswa, tetapi dua tahun berikutnya harus mengeluarkan biaya sendiri. Suhendra pun mengaku berusaha mencukupi kekurangan dana dengan memulung botol di Berlin. Kemandiriannya berbuah pada penguasaan kemampuan spesifik hingga menjadikan dia satu-satunya doktor dari negara lain yang dibutuhkan sebuah institusi Pemerintah Jerman semacam LIPI di Indonesia.

"Ya, saya sempat memulung di waktu senggang usai subuh agar tak ketahuan orang kita sendiri di Berlin," seloroh Suhendra seraya tersenyum.

Pria kelahiran Majalengka, Jawa Barat, 17 November 1975, ini mengaku lebih dari 15 tahun di dunia riset dan pengembangan pada universitas dan instansi riset di Jerman dan industri-industri terkemuka Jerman bidang life science (farmasi), energi, silikon, atau semikonduktor, dan advanced material.

Dia mengutarakan tradisi riset di Jerman telah amat kuat tertanam yang memantik negara ini menjadi negara maju di dunia. Menurutnya, terdapat peribahasa di Jerman yakni 'Alokasikan uang yang banyak untuk riset, maka riset akan memberikan uang yang lebih banyak'.

Dia mengaku hasil kunjungan ke UI memiliki sejumlah tugas sebagai diaspora, yakni pertama ia mengemban amanah untuk memperhatikan peluang kerja sama yang ada di Jerman. Kedua, membantu memfasilitasi mahasiswa UI meraih beasiswa menempuh pendidikan S3 di Jerman.

Ketiga, membantu kerja sama konkret kolaborasi riset dengan mitra yang tepat di Jerman.

Sementara itu, Dirjen SDID Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti, mengemukakan para ilmuwan diaspora diseleksi secara ketat dengan melibatkan peran Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) dan Ikatan Ilmuwan Internasional Indonesia (I-4).

Menurutnya, kegiatan SCKD mendapat antusiasme tinggi dari para ilmuwan diaspora. Tercatat, sejak dibuka pendaftarannya pada Juni silam, ada 120 ilmuwan diaspora mendaftar program ini. Ini menunjukkan para ilmuwan diaspora yang sukses berkarier di luar negeri tersebut memiliki hasrat mengabdi bagi Indonesia.

"Mereka ini datang ke Indonesia tidak hanya untuk pulang kampung juga berbincang dengan akademisi dan ilmuwan Indonesia tentang pengembangan ilmu pengetahuan, juga ikut berkontribusi menyusun rekomendasi kebijakan pembangunan SDM Indonesia," kata Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.

Seperti diberitakan, tahun ini merupakan kali ketiga Ditjen SDID Kemerinstekdikti menggelar kegiatan SCKD. Sebelumnya, program serupa telah dilaksanakan pada 2016 dengan nama Visiting World Class Professor. Kemudian pada 2017 berubah menjadi Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) hingga saat ini.

"Banyak ilmuwan diaspora yang hadir mereka masih muda dengan prestasi dan sepak terjangnya luar biasa, bahkan diakui dunia," imbuh Ghufron.

Para ilmuwan diaspora yang terpilih memiliki jabatan akademik minimal asisten profesor di institusinya. Tercatat, ada tujuh orang asisten profesor, 14 associate profesor, 10 profesor, dan sisanya merupakan dosen senior yang telah menjadi academic leader, seperti dekan atau kepala pusat riset, serta ada pula yang menjadi peneliti profesional.

Sedangkan dari latar belakang bidang keahlian cukup beragam, dari mulai kedokteran, biologi molekular, energi, teknik kimia, teknik elektro, farmasi, tata kota, pangan, kemaritiman, dan masih banyak lagi, termasuk bidang ilmu sosial.

Berdasarkan evaluasi dari pelaksanaan kegiatan sebelumnya, SCKD telah memberikan dampak positif secara langsung maupun tidak langsung. Kolaborasi antara ilmuwan diaspora dan akademisi dalam negeri telah menghasilkan puluhan riset dan publikasi ilmiah gabungan di jurnal-jurnal internasional bereputasi.

Tak hanya itu, sejumlah ilmuwan diaspora juga memberi kesempatan untuk mobilisasi dosen Indonesia ke perguruan tinggi kelas dunia. Di sisi lain, terbangun pula jembatan komunikasi yang berkelanjutan antara para ilmuwan diaspora dan akademisi Indonesia.

"Hubungan dan jaringan ini yang terus dirawat. Segenap bangsa Indonesia harus merapatkan barisan, menyamakan derap langkah untuk menghadapi persaingan sehingga mewujudkan Indonesia yang lebih cerah di masa depan," pungkas Ghufron. (OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya