Kemenkes Imbau Kontrol Rutin Hipertensi

Richaldo Y Hariandja
28/5/2015 00:00
Kemenkes Imbau Kontrol Rutin Hipertensi
(Antara)
DIREKTUR Pengendalian Penyakit tidak Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Ekowati Rahajeng menyatakan bahwa hipertensi memiliki prevelensi yang cukup tinggi, yaitu sebesar 25%. Itu berarti dari empat penduduk di Indonesia, satu orang terjangkit hipertensi.

Oleh karena itu, dia menyatakan bahwa Kementerian melakukan berbagai upaya untuk tindakan pencegahan, termasuk memasukkan hipertensi dalam anggaran Jaminan Kesehatan Nasional. Tidak tanggung-tanggung, lebih dari setengah anggaran JKN difokuskan untuk penyakit yang masuk dalam kategori tidak menimbulkan gejala tersebut.

"Karena itu untuk menipiskan penggelembungan anggaran untuk penyakit tersebut, kami melakukan berbagai upaya pencegahan kepada masyarakat, karena penyakit ini undiagnosed, dan juga akan berbahaya ketika komplikasi," terangnya dalam acara SEHATi Bicara 8.0: Diseminasi Hasil Program Pengendalian Hipertensi 2014, di Jakarta, pada Rabu (27/05).

Dia berujar bahwa kunci tindakan pencegahan yang baik adalah dengan cek Kesehatan rutin. Dengan demikian, individu akan mengetahui perkembangan penyakit tersebut pada dirinya.

"Selain itu, enyahkan asap rokok, rajin berkativitas, diet sehat, istirahat yang cukup, dan kelola stres juga menjadi hal yang penting. Itu semua akan bisa dikerjakan dan terus diingatkan dengan melakukan cek kesehatan rutin," tambahnya.

Lebih jauh dia mengingatkan bahwa penggunaan garam berlebih mempercepat risiko terjangkit hipertensi. karena itu dia meminta agar masyarakat menjadi lebih bijak dalam pemakaian garam pada masakan.

Pentingnya cek kesehatan terhadap hipertensi juga dibuktikan oleh Novartis yang bekerja sama dengan Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Universitas Indonesia dan Kemenkes di Kabupaten Bogor. Di sana ditemukan fakta bahwa cek kesehatan rutin turut mempengaruhi turunnya angka hiperstensi.

"Apalagi ketika dilakukan intervensi berupa pembekalan materi kepada masyarakat, itu sangat berpengaruh signifikan," ucap Guru Besar Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat UI Hasbullah Thabrany dalam kesempatan tersebut.

Akan tetapi, lanjutnya, penyakit tidak menular tidak akan bisa dihilangkan. Yang bisa dilakukan adalah mengurangi risikonya terhadap penduduk produktif.

"Oleh karena itu, tindakan pencegahan harus dilakukan, ini juga akan mengurangi besarnya tunjangan negara pada penyakit tersebut," pungkasnya. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya