Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
INDONESIA sudah sering dituding sebagai emitter gas rumah kaca dan parahnya tingkat pencemaran udara. Hal itu diungkapkan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, di Jakarta, Sabtu (18/8).
Dwikorita mencontohkan, pada 2004, Reuters menurunkan tulisan yang menyebut Indonesia sebagai negara penyumbang emisi (emitter) terbesar ketiga dunia karena deforestasi, degradasi lahan gambut, dan kebakaran hutan. Tulisan itu didasarkan pada laporan penelitian yang dibuat oleh sebuah lembaga konsultan penelitian lingkungan Indonesia yang mendapat sponsor dari Bank Dunia dan British Development Arm.
Sepuluh tahun kemudian, atau 2014, World Resources Institute (WRI) masih menempatkan Indonesia dalam urutan keenam yang menyumbang 4% dari total kumulatif emisi gas rumah kaca (GRK) dunia periode 1990-2011. Perhitungan total kumulatif GRK itu sudah menyertakan perubahan guna lahan dan kehutanan.
Namun 2017 lalu, sebuah penelitian terbaru oleh Boden dkk (2017) yang berjudul 'National CO2 Emissions from Fossil-Fuel Burning, Cement Manufacture, and Gas Flaring' yang diterbitkan oleh Carbon Dioxide Information Analysis Center, Oak Ridge National Laboratory, US Department of Energy, ternyata tidak menyertakan Indonesia di dalam 6 negara emitter dunia terbesar.
Enam negara penyumbang emisi dunia yang disebutkan oleh studi tersebut yakni China, Amerika Serikat, Uni Eropa, India, Federasi Rusia, dan Jepang.
Senada dengan karya ilmiah tersebut, laporan Climate Change Performance Index (2018) juga mengeluarkan Indonesia dari 10 besar penyumbang emisi terbesar dunia dan menempatkannya pada peringkat 14, meski menurut laporan tersebut, Indonesia masih diklasifikasikan sebagai negara berkinerja rendah di tahun ini sebab tren masa lalu dan status emisi GRK per kapita saat ini dinilai masih sangat rendah.
Secara bukti data, pun hasil pengukuran GRK di Bukit Koto Tabang selama 14 tahun terakhir sejak 2004, laju kenaikan CO2 di Indonesia ialah 1,94 ppm, tidak setinggi konsentrasi hasil pengukuran di Stasiun GAW Mauna Loa (AS), bahkan masih di bawah kenaikan rata-rata global sebesar 2,08 ppm.
Indonesia sudah sering kali dituding sebagai negara yang paling emisif GRK-nya di dunia, tetapi penilaian dan penelitian lembaga ternama lainnya maupun data riil GRK terukur di lapangan pun membantah tudingan itu.
Demikian pula dalam hal pencemaran udara baru baru ini. Pemberitaan stasiun TV Al Jazeera pada Jumat (17/8) yang bertajuk 'Air pollution welcomes athletes in Jakarta for Asian Games', bahkan menyatakan bahwa tingkat polusi udara di Jakarta telah meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir.
"Dengan mengacu 'standar WHO' ada pihak-pihak yang mengatakan pada beberapa hari tingkat polusi udara Jakarta lebih buruk daripada Beijing, RRC," ungkap Dwikorita.
Senada dengan hal itu, pemberitaan BBC Indonesia juga menyebut jelang Asian Games 2018, Jakarta jadi kota berpolusi udara 'paling parah' di dunia.
Mantan Rektor UGM itu menerangkan, tuduhan polusi Jakarta terparah di dunia itu berbeda dengan apa yang dirilis The New York Times, Juni 2017 lalu, yang mana peringkat 10 negara terburuk dalam hal polusi ialah China, AS, India, Rusia, Jepang, Jerman, Iran, Arab Saudi, Korea Selatan, dan Kanada.
Penelitian terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang kota-kota yang paling tercemar di dunia menunjukkan, dari 10 kota paling tercemar di dunia, sembilan di antaranya ada di India, dan satu di Kamerun.
"Jakarta atau Indonesia sendiri tidak termasuk di dalam negara-negara yang dirilis WHO dari paparan polusi udara dan dampak kesehatan," pungkas Dwikorita. (OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved