SMK Agribisnis Kakao Harapan Petani di Mamuju

Sugeng Sumariyadi
18/8/2018 13:31
SMK Agribisnis Kakao Harapan Petani di Mamuju
()

BERADA di lingkungan perkebunan kakao, membuat Sukma, 17, tergerak mencintai komoditas yang satu ini. Karena itu, selepas sekolah menengah pertama, ia memilih melanjutkan sekolah ke SMK Negeri Sulawesi Barat (Sulbar).

"Saya sangat senang dan tertantang untuk membuat produk olahan dari cokelat. Banyak kakao di sekitar saya, sehingga saya ingin maju dan memajukan keluarga dan para petani kakao dengan produk olahan yang baik,” tutur remaja yang ditemui saat Pameran Produk UMKM yang digelar Bank Rakyat Indonesia (BRI) di Mamuju, Sulawesi Barat, Sabtu (18/8). 


Sukma yakin dengan memberi nilai tambah pada kakao, para petani akan mendapat penghasilan yang lebih baik. 

“Biasanya, kami hanya memetik kakao dan mengeringkannya sebelum dijual ke pengepul. Dengan mengolahnya menjadi makanan, kue, cokelat atau minuman, hasilnya tentu akan lebih besar,” tandasnya. 


SMK Negeri Sulbar yang berada di Kabupaten Mamuju ini merupakan satu-satunya SMK dengan konsentrasi agribisnis kakao atau cokelat di Indonesia. Ada dua jurusan yang dibuka, yakni Agribisnis Tanaman Perkebunan dan Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian. 

“Kami memberi kemampuan siswa dari hulu ke hilir soal cokelat. Dari mulai pembibitan, penanaman, hingga membuat produk olahan makanan berbahan dasar cokelat,” papar Mulyadi, pengajar yang mendapat tanggung jawab mengepalai unit produksi makanan olahan di pabrik yang ada di dalam SMK ini.  

Sulawesi Barat merupakan provinsi penghasil kakao terbesar di Tanah Air. Dengan luas lahan mencapai 180 ribu hektare lebih, kakao yang diproduksi mencapai rata-rata 150 ribu ton per tahun. 

Mamuju menjadi kabupaten dengan produksi kakao terbesar, lebih besar dari daerah lain seperti Polewali Mandar, Mamuju Utara, Mamasa dan Majene. Di Mamuju dengan lahan tanam seluas 65,5 ribu hektare, kakao yang dihasilkan mencapai 53,5 ribu ton per tahun. Sayangnya, seperti diungkapkan Mulyadi, sebagian besar kakao yang dihasilkan Sulawesi Barat harus dikirim ke Makassar, karena di disana berdiri pabrik pengolahannya. 

“Di Mamuju, pengolahan baru dilakukan di tingkat rumahan. Mungkin pabrik yang terbesar di Mamuju adalah milik SMK Negeri Sulbar, yang sebenarnya ialah laboratorium pengolahan.” paparnya.

Karena itu, Mulyadi bertekad terus menghasilkan lulusan SMK yang handal dalam bidang kakao ini. Dengan menyiapkan tenaga handal, ia berharap pabrik-pabrik pengolahan kakao bisa melirik untuk mendirikan pabrik di Mamuju. 

“Kalau SDM sudah ada, mungkin investor mau mendirikan pabrik disini. Adanya pabrik akan membuat petani dan warga di Mamuju lebih sejahtera,” tandas Mulyadi. 

Pimpinan BRI Wilayah Makassar, Agus Suprihanto, menilai potensi kakao bisa menjadi pengungkit ekonomi di Mamuju. Keberadaan SMK yang menggeluti kakao juga sangat strategis.

“Karena itu, dalam program BUMN Hadir Untuk Negeri, kami sangat fokus pada dunia pendidikan. Kami juga terus memperbesar kucuran KUR untuk petani dan pengolah kakao,” tandasnya. (OL-7)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya