Prima Wisnu Wardana Ibu Sebagai Penyemangat Sang Juara

(*/M-3)
18/8/2018 04:40
Prima Wisnu Wardana Ibu Sebagai Penyemangat Sang Juara
(MI/SUMARYANTO BRONTO)

MENJADI atlet panahan bukanlah persoalan yang mudah. Di balik ketekunan, biaya pun sangat perlu dipikirkan. Semua itu dirasakan Prima Wisnu Wardana. Pria asal Yogyakarta berusia 23 tahun ini mewakili Indonesia sebagai atlet panahan di ajang ASIAN Games.

Sejak usia 11 tahun, sudah banyak kejuaraan panahan yang ia ikuti. Ia memulai tahun 2007 mengikuti kejuaraan Jinor di Blora, Jawa Timur. Ia pun rajin ikut kejuaraan tingkat daerah dan nasional hingga akhirnya tahun 2014 ia bisa mengikuti ajang Internasional. Turki, Tionghoa, Thailand, Singapura, dan Malaysia sudah ia sambangi sebagai atlet panahan. Ia pun mengungkapkan sudah mendapatkan lebih dari 30 medali emas dari beragam kejuaraan.

Terlahir dari keluarga wiraswasta, Prima mengakui tertarik di bidang panahan sejak kelas 6 SD. Ia pun kesulitan dalam memulai panahan karena biaya dari busur yang mahal. Bahkan ia sempat drop untuk bidang panahan. "Jadi Sebelum pegang busur compound sebelumnya busur kayu, terus akhirnya tahun 2012 itu bener-bener drop sampai kepikiran enggak mau manah lagi. Udah kayak orang yang ga bisa manah lagi dan berhenti selama tiga bulan," ungkapnya.

Ia kasihan dan sadar perjuangan ibunya selama ini bila ia menyerah. Ia akhirnya menemukan busur bekas seharga Rp12 juta. Pasalnya harga busur baru Rp21juta dan belum peralatan lainnya. Ia dan ibunya menemui pemilik busur bekas tersebut untuk membelinya.

Sayangnya Prima tidak tahu busur tersebut hanya bisa dipinjam. Pasalnya ibunya hanya memiliki uang Rp6juta. Ibunya berbohong dan mengatakan busur sudah dibeli. Busur itu dipakainya untuk kejuaraan yang menghasilkan medali perak dan perunggu.

"Alasan mamah kalau cerita sama saya sebelum saya tahu bahwa busur ini belum lunas, mamah bilang mau di service dulu sama pak toto (nama pemilik busur). Padahal dikembalikan, karena yang punya busur harus putar uangnya untuk beli busur yang lain lagi. Nah akhirnya setelah juara itu saya dibelikan oleh pemerintah Yogya seperangkat busur yang lengkap," ungkap laki-laki yang menang kejuaraan SEA Games 2017.

Saat SEA Games 2017 di Malaysia, ibunya Prima mengalami kelumpuhan. Menurut dokter, kelumpuhan itu akibat kekurangan natrium. Ia pun sering menanyakan kabar ibunya kepada keluarga mengenai keadaan ibunya. Ayahnya bilang baik-baik saja, namun kakaknya bilang ibunya belum bisa bergerak juga.

Kondisi itu membuatnya kesulitan konsentarasi memanah. Hingga ia berkonsultasi dengan seniornya. "Kata senior saya fokus aja siapa tahu di sini rezekimu. Terus akhirnya saya manah dan berpikir ya udahlah enggak apa-apa mungkin ini bukan rezeki saya. Tapi saya akhirnya masuk final, dan di pertandingan final yang saya pikirkan cuma mamah sampai sempet netes dan bidiknya goyang. Saya pun bilang demi mamah lah eh akhirnya masuk sasaran," lanjutnya.

Kasih sayangnya terhadap ibunya juga ia aplikasikan pada kehidupan sehari-hari. Ia pun pernah menolong seorang nenek penjual gado-gado yang sedang terlilit hutang sampai bisa mengumpulkan dana dan membayarkan hutang tersebut, bahkan merenovasi tempat berjualan dari nenek tersebut.

Saat ini Prima hanya ingin membalas budi pada ibunya walaupun ia rasa tidak bisa dibalas lewat apapun. Prima juga masih ingin mewakili Indonesia sampai saat-saat ia tidak bisa memanah lagi.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya