Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DENGAN semangat kerja keras, Dewi Yuliawati berhasil mengubah garis kehidupannya. Perempuan yang tinggal di Muara Angke, Jakarta Utara ini sudah disasar menjadi tenaga kerja wanita (TKW) sejak kelas 4 SD. Semua itu karena keterbatasan ekonomi keluarganya. Sejak kelas 3 SD Dewi sudah dilatih mengerjakan pekerjaan rumah sendiri.
"Dulu, sebelum saya jadi atlet bapak itu tukang becak. Ibu pengupas kerang, dia segala macam apapun itu selagi halal dia kerjakan," ujarnya.
Namun Dewi sadar ia masih kecil dan belum tahu bisa melakukan apa bila menjadi TKW. Ia pun memutar otak dan merayu ibunya agar ia dibiarkan lulus SD terlebih dahulu sebelum menjadi TKW.
"Saya mikir, kelas empat jadi TKW saya bisa apa. Walaupun saya sudah dilatih, tapi di sana pasti lebih berat. Jadi saya ngerayu emak waktu itu. Saya kelas empat SD sampai enam SD tinggal dua tahun lagi. Saya bilang 'mak, nanggung mak nunggu Dewi lulus dulu tinggal dua tahun lagi'. Padahal dalam hati saya memang tidak mau. Itu gimana caranya aja biar enggak pergi gitu," ungkap gadis yang memiliki 6 saudara itu.
Jalan hidupnya perlahan mulai berubah. Ketika lulus SD ia mendapatkan bantuan untuk mengenyam pendidikan SMP secara gratis. Dewi pun kembali merayu ibunya untuk melanjutkan sekolah.
Ia diizinkan melanjutkan sekolah dengan syarat ia mencari sendiri biaya sekolah sendiri. Ia pun bekerja sebagai pengupas kerang untuk biaya pakaian dan lainnya.
Kerang
Perkenalan Dewi dengan olahraga dayung terjadi saat ia duduk di kelas 3 SMP. Melalui gurunya bernama Nanang, Dewi diperkenalkan kepada alumni SMPnya bernama Andi yang mengikuti Asian Games cabang dayung di Beijing tahun 2010. Melalui Andi ia diperkenalkan dengan pelatih atlet dayung se-DKI Jakarta bernama ibu Ayun.
Bukanlah uang yang Dewi incar ketika ditawari menjadi atlet. Ia hanya ingin dapat makan dan bisa bersekolah dengan jalur olahraga dayung. Seminggu sekali Dewi berlatih di Ancol. Namun sebelum berangkat ia mengupas kerang dahulu untuk bisa mendapatkan ongkos perjalanan ke Ancol.
"Jadi seminggu sekali saya latihan di sana. Itu seminggu sekali, sepulang sekolah hari Jumat. Saya juga harus ngupas kerang dulu supaya bisa berangkat kesana. Saya pikir sih yang penting bisa berangkat saya ngga mikirin gimana pulangnya. Pulah bisa minta ikut temen atau bm," ungkap gadis yang kini menjadi atlit andalan di bidang dayung untuk ASIAN Games.
Selain mengupas kerang, ia membantu ibunya untuk berjualan serabi di pangkalan nelayan. Ia menjual serabi tersebut sebelum ia berangkat sekolah. Selesai sekolah ia mengupas kerang kemudian baru bisa tertidur. Saat memenangi POPNAS tahun 2011 di Riau, akhirnya ia bisa membuat ibunya percaya kepadanya dan bisa menlanjutkan mimpinya.
Saat Popnas 2011 ia mendapatkan hadiah uang Rp1.800.000. Sebanyak Rp300.000 ia gunakan membeli oleh-oleh karena baru pertama kali keluar kota. Sisanya ia berikan ke Ibunya.
"Saya pulang ke rumah terus saya kasih. Emak nanya ngambil uang siapa, walaupun kita hidup susah dari dulu, tapi emak enggak pernah ngajarin buat tangan panjang, kata emak begitu. Terus Dewi bilang enggak mak, ini hasil Dewi lomba, Dewi menang. Terus dia nangis dan percaya, setelah itu emak nanya emang ngedayung dapet uang. Abis itu dia setuju," ungkap Dewi sambil tertawa.
Kini perempuan berusia 21 tahun ini sudah menjadi salah satu atlet yang berlaga di Asian Games 2018. Sejak berkecimpung di olahraga dayung sejak 2011, ia meraih sejumlah prestasi. Seperti Kejuaraan Nasional Junior, Kejuaraan Tingkat Asia, dan ikut serta dalam Olimpiade Rio de Janeiro, Brasil. Ia pun berharap bisa lolos kualifikasi dan mendapatkan tiket ke Olimpiade 2020 di Tokyo, Jepang.
(M-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved