Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
LITI kerap sial gara-gara rasa ingin tahunya yang besar. Setelah menderita akibat serangan lebah beberapa bulan yang lalu, baru-baru ini dia harus berurusan dengan monyet ekor panjang yang merebut makanannya. Ia memang dijuluki 'Liti si Kepo'.
Liti ialah salah satu anak orang utan di Pusat Rehabilitasi BOS (Boerneo Orangutan Survival) Foundation di Kalimantan. Liti diselamatkan dari pemilik yang mengaku menemukannya di perkebunan kelapa sawit. Selama proses konfiskasi (peralihan), Liti tampak sangat ketakutan. Saat ini, Liti telah berhasil mengembalikan rasa percaya dirinya. Dia termasuk salah satu orang utan terpintar dan liar di grup bayi.
Kisah itu terpampang di kanal adopsi situs Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF). Selain kisah itu, ada pula kisah dari tujuh orang utan lainnya.
Kisah-kisah itu dipampangkan untuk menarik masyarakat mengadopsi orang utan. Adopsi kian diharapkan mengingat jumlah orang utan yang dirawat di BOSF telah mencapai 500 individu.
CEO BOSF Jamartin Sihite menjelaskan bahwa satu orang utan membutuhkan biaya perawatan sekitar Rp2,5 juta-Rp3 juta per bulan. "Meski yang diadopsi hanya sekitar sepuluh, biaya adopsi itu sebenarnya digunakan untuk merawat 500 orang utan lain yang berada di kandang maupun di pusat rehabilitasi BOSF," jelasnya kepada Media Indonesia, Rabu (15/8).
Banyaknya orang utan yang dirawat sesungguhnya juga menggambarkan kondisi habitat mereka yang semakin tidak ramah. Alih fungsi hutan membuat tempat tinggal orang utan menyusut dan akhirnya memaksa mereka keluar dari hutan untuk mencari makan. Dari situ pula konflik dengan manusia kerap terpicu.
Belum lagi maraknya perburuan hewan yang padahal sudah dikategorikan critically endangered dalam International Union of Conservation of Nature - Red List. Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No 7 Tahun 1999 tentang Peng-awetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, orang utan dikategorikan sebagai satwa dilindungi.
Urgensi itulah yang juga mesti menjadi perhatian bersama dalam momen Hari Orang Utan Sedunia yang jatuh pada 19 Agustus. Terlebih, kelestarian orang utan tak hanya penting bagi mereka sendiri, tapi juga bagi keanekaragam-an hayati hutan.
Keroyokan
Jamartin mengungkapkan program adopsi juga dibuat agar setiap orang merasa menjadi pemilik dan pelindung orang utan. Namun, model adopsi yang diterapkan ialah adopsi bersama-sama atau keroyokan. Jadi tiap satu individu orang utan bukan hanya diaopsi satu orang.
Meski demikian, pengadopsi tidak diizinkan datang untuk menggendong orang utan. "Kalau digendong-gendong kan terjadi domestifikasi. Padahal tujuan dari pusat rehabilitasi ialah merehabilitasi mereka menjadi liar," ujarnya.
Program adopsi ini terbukti cukup mampu menarik keikutsertaan masyarakat. Salah satunya ialah Forina.
"Saya mulai mengadopsi orang utan sejak 2015. Awalnya saya hanya tahu membeli merchandise sudah cukup. Ternyata ada cara lain yang lebih mengena yakni dengan mengadopsi salah satu orang utan yang dirawat di BOSF," tuturnya.
Forina mengadopsi Sura, Kopral, dan Shelton. Ia mengaku tersentuh dengan kisah mereka. Sura, misalnya, ia pilih karena empat jari orang utan itu tinggal setengah akibat terpotong.
Tidak sendiri, Forina juga mengajak teman-temannya untuk membantu kehidupan orang utan di BOSF. Dari jejaring media sosial, ia berhasil mengumpulkan 17 orang untuk membantu program rehabilitasi orang utan melalui program adopsi BOSF.
"Jadi teman-teman saya ber-18, ada teman saya, ada temannya teman saya. Sambung-menyambung, kan social media," tambahnya.
Dari situlah kemudian ia bersama teman-temannya mengadopsi Kopral dan Shelton. Forina pun berharap lebih banyak orang mau ikut ber gerak mengadopsi orang utan sebab hanya dengan gotong royong penyelamatan bisa efektif.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved