Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
JEMAAH haji Indonesia diminta menyiapkan mental dan fisik menghadapi puncak haji pada 9 Dzulhijjah. Pasalnya, kondisi di Arafah, Mina, dan Muzdalifah (Armuzna) penuh keterbatasan dan terik matahari yang menyengat sekitar 50 derajat Celcius.
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan bahwa ibadah haji merupakan ujian kesabaran dan ketahanan fisik.
"Lingkungan Arafah dan Mina jauh berbeda tingkat kenyamanannya di Makkah dan Madinah. Di Makkah dan Madinah jemaah kita tinggal di hotel berbintang dengan fasilitas yang terpenuhi. Tapi di Arafah dan Mina mereka tinggal di tenda-tenda yang berdesakan. Dengan fasilitas toilet terbatas. Dan harus menempuh perjalanan jauh menuju Jamarat untuk jumrah. Itu kondisi jemaah kita diuji tak hanya kesabaran tapi juga ketahanan fisik," jelas Menag seusai meninjau bus salawat, terminal, dan salat maghrib di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Selasa (14/8).
Menurut Menag, setelah wukuf di Arafah, jemaah akan tinggal di Mina selama dua sampai tiga hari.
"Jemaah dalam kondisi fisik yang sebenarnya sudah melampaui puncaknya, karena sudah berhari-hari (di Makkah). Kalau yang dari Madinah (gelombang pertama) sudah berminggu-minggu. Sehingga sebenarnya ketika berada di Arafah dan Mina sudah sampai puncak ketahanan fisik, sudah diforsir luar biasa," ujarnya.
Karena itu, Menag mengimbau jemaah menjaga kesehatan, makan teratur, dan istirahat yang cukup. Terkait fase Armuzna, sebanyak 3.849 petugas haji akan dikerahkan untuk melayani jemaah selama puncak haji. Mereka akan mempersiapkan kebutuhan jamaah untuk wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah dan Mina.
Kepala Satuan Operasi Armina, Jaetul Muchlis, mengatakan, mereka akan dibagi menjadi tiga kelompok. Pertama ialah satgas Arafah yang akan tiba di Arafah pada 7 Dzulhijjah pukul 19.00 waktu setempat. Mereka akan mengecek kesiapan akhir tenda tempat jamaah wukuf beserta dapur dan toilet.
Kedua ialah Satgas Muzdalifah. Sebelum jemaah berangkat ke sana, satgas ini akan lebih dulu berangkat ke Muzdalifah pada 9 Dzulhijjah siang. Jemaah digerakkan ke Muzdalifah pada sore hari.
Sedangkan Satgas Mina akan mengecek kesiapan segala pelayanan jemaah. Pada 10 Dzulhijjah dini hari pukul 01.00 waktu setempat jemaah dipindahkan ke Mina untuk jumrah aqabah.
"Semuanya kita kerahkan. Ini adalah puncak haji yang membutuhkan perhatian ekstra, momentum yang sangat melelahkan," kata Jaetul di Syisyah Makkah pada Rabu (15/8).
Jemaah haji akan berada di Mina sampai 12 Dzulhijjah bagi yang menyelesaikan Nafar Awal. Sedangkan jemaah yang melengkapi lempar jumrah sampai 3 hari atau nafar sani akan berpindah ke pemondokannya pada akhir hari tasyrik atau 13 Dzulhijjah.
Terkait hal itu, Kementerian Kesehatan membentuk Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Arafah. Selain ada tenda besar buat dokter, perawat, obat-obatan, dan peralatan lainnya, juga didirikan enam pos kesehatan, yakni di maktab 22, 26, 48, 16, 43, dan 70. Selain di Arafah, pos-pos kesehatan juga didirikan di Mina dan Muzdalifah.
Kepala Seksi Kesehatan Daerah Kerja Makkah, dr Muhammad Imran, mengatakan, pelayanan kesehatan membutuhkan perhatian ekstra, karena jumlah jemaah haji yang risiko tinggi cukup banyak 66.86%. Kepada semua jemaah, Kemenkes akan menyebarkan 15 pesan untuk menghadapi fase Armuzna. Di antaranya adalah tidak memaksakan diri melempar jumrah ketika kondisi kesehatan tidak memungkinkan.
"Waktu melontar bagi jemaah Indonesia disarankan 10 Dzulhijjah setelah asar atau magrib dan pada 11 Dzulhijjah setelah subuh," kata Imran.
Sementara itu, Daker Makkah bekerja sama dengan KKHI Makkah menyiapkan Tim Safari Wukuf, yakni memboyong jemaah yang sakit ke Arafah, baik dalam duduk atau berbaring. Di samping itu, juga Tim Badal Haji, yakni petugas yang akan menggantikan jemaah yang wafat sejak di embarkasi atau sebelum wukuf di Arafah. (OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved