KASUS kanker prostat menyumbang kematian ketiga terbanyak pada pria, setelah kanker paru dan kanker usus besar. Laju prevalensi kanker prostat mencapai 11,5 per 100.000 penduduk, dengan estimasi 5.074 kasus baru terjadi tiap tahun.
Namun, masyarakat cenderung baru berobat ketika penyakit mereka sudah memburuk. Itu diduga karena ketidaktahuan akan penyakit ini.
"Selama ini, ada anggapan prostat itu penyakit. Itu salah karena prostat itu bagian dari sistem reproduksi pria, bukan penyakit," ujar dr Yudi Amiarno, SpU dari Rumah Sakit (RS) Tarakan, Jakarta, pada Sabtu (14/3). Ia berbicara pada seminar bertajuk Deteksi dini kanker prostat, bahagia kemudian! Guna meningkatkan awareness masyarakat akan bahaya kanker prostat, yang diselenggarakan Laboratorium Klinik Prodia di Jakarta.
Kanker prostat adalah penyakit kanker yang menyerang kelenjar prostat. Sel-sel kelenjar tersebut tumbuh secara abnormal dan tidak terkendali sehingga semakin mendesak dan merusak jaringan di sekitarnya yang dapat berujung kematian.
Kecenderungan berkembangnya kanker prostat meningkat dengan bertambahnya usia. "Jadi, tidak ada hubungan dengan makanan atau aktivitas seksual," jelas dr Yudi.
Pada stadium awal, biasanya kanker prostat dapat lebih mudah ditangani. Namun, sering kali pada stadium awal kanker prostat tidak menunjukkan gejala sehingga diperlukan upaya deteksi dini kanker prostat.
Deteksi kanker prostat bisa menggunakan cara digital rectal examination (DRE) atau dikenal dengan colok dubur. Selain itu, juga dapat melalui pemeriksaan prostate specific antigen (PSA). "PSA merupakan suatu protein yang dihasilkan oleh sel prostat. Jadi kalau PSA tidak normal, maka ada yang salah juga dengan prostatnya," jelas dr. Yudi.
Intan Wibawanti, S. Farm, Apt, dari Prodia menjelaskan, American Cancer Society menyarankan pria berumur lebih dari 50 tahun melakukan pemeriksaan PSA dan DRE setiap setahun sekali. "Namun, bila ada keluarga yang menderita kanker prostat atau memiliki risiko tinggi terkena kanker prostat, deteksi dini dianjurkan sejak usia 40 tahun," jelas Intan.
Pemeriksaan penting dilakukan karena kanker prostat pada kondisi stadium lanjut sulit diobati dan dapat berakibat kematian. "Sayangnya, di Indonesia screening kanker belum jadi aturan layaknya di Amerika. Jadi, untuk mengetahui kanker atau tidak tergantung dari pilihan masyarakat," tambah dokter Yudi.
Untuk menghindari risiko kanker prostat, perlu dilakukan diet seimbang dan olahraga rutin. Dokter Yudi menyarankan untuk memperbanyak makan sayuran dan buah-buahan serta mengurangi konsumsi lemak, gula, minyak, dan garam. (Theodora Luna/H-1)