IDAI Minta Imunisasi MR Dilanjutkan

Indriyani Astuti
14/8/2018 18:08
IDAI Minta Imunisasi MR Dilanjutkan
(ANTARAFOTO/Basri Marzuki)

IMUNISASI MR penting dilakukan untuk memutus mata rantai penularan virus tersebut sekaligus membagun kekebalan komunitas dari penyakit campak dan rubella.  

Professor Soejatmiko dari satgas imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menuturkan pihaknya ingin program kampanye imunisasi MR dilanjutkan. Ia menjelaskan campak pada balita dan anak yang belum pernah mendapatkan imunisasi akan berdampak pada kondisi yang buruk.

"Kalau kena akan berat kondisinya bisa radang paru, kejang, radang otak, diare bahkan meninggal," terangnya dalam konferensi pers di Kantor Ombudsman RI, Jakarta, hari ini.

Sedangkan virus Rubella dapat berbahaya terutama bagi ibu hamil apabila tertular, bayi yang dilahirkan berisiko cacat. "Kalau diimunisasi, maka dalam waktu dua minggu sudah muncul kekebalan," imbuhnya.

Menurut Prof. Soejatmiko,  imunisasi saja rutin tidak cukup. Dibutuhkan imunisasi yanh serentak dan cakupan yang tinggi yakni minimal 95% untuk membangun kekebalan komunitas.  IDAI mendukung program kampanye imunisasi MR secara serempak.

"Kalau masih ada yang tidak diimunisasi bisa jadi kantung berpindahnya virus campak dan rubella dan program ini akan tertunda," tegasnya.

Sementara itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) RI menjamin keamanan vaksin yang digunakan untuk kampanye imunisasi Measles dan Rubella (MR) Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Zat Adiktif Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) Reri Indriani menuturkan sebelum vaksin tersebut diberikan izin edar di Indonesia, pihaknya telah melakukan pengawasan komprehensif.

"Meliputi pemenuhan standar, khasiat dan mutu," ujarnya.

Ia menuturkan lebih lanjut, setelah mendapatkan izin edar Badan POM tetap melakukan pengecekan keamanan vaksin melalui pengawasan setelah diedarkan (post market). Vaksin MR yang digunakan untuk introduksi imunisasi di Indonesia diproduksi oleh Serum Institute of India (SII) yang didistribusikan oleh PT. Bio Farma.

Vaksin tersebut telah mendapatkan izin edar dari Badan POM sejak 2017.

Sementara itu, Direktur Utama PT. Bio Farma  Rahman Rustan menyampaikan pihaknya sedang mengembangkan agar Indonesia dapat membuat vaksin MR sendiri. Ia mengakui proses tersebut membutuhkan waktu cukup lama. Sehingga untuk kebutuhan program imunisasi MR, Bio Farma bekerjasama dengan SII yang sudah lebih dulu bisa memproduksi vaksin MR.  

"SII  di India sudah diakui oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan vaksin itu sudah digunakan pada 141 negara islam," terangnya.

Mengenai sertifikasi halal vaksin, Bio Farma, imbuhnya, telah berkonsultasi dengan MUI dan mendorong SII di India untuk memenuhi dokumen persyaratan kehalalan vaksin.

"Tim kami telah ke India memberikan informasi dan pemahaman tentang aspek halal. Memang masih memnutuhkan pemahaman. Kami mendorong agar SII melengkapi dokumen tersebut," tukasnya.

PT. Bio Farma menyediakan 5,7 juta vial vaksin MR untuk program kampanye yang dilaksanakan pada Agustus hingga September 2018 di 28 di luar pulau Jawa. Program itu menyasar 31,9 juta balita 9 bulan dan anak-anak hingga usia 15 tahun. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya