Alami Gangguan Gerak Bisa Jadi Parkinson

Puput Mutiara
25/3/2015 00:00
Alami Gangguan Gerak Bisa Jadi Parkinson
(MI/CAKSONO)
SUATU pagi, delapan tahun silam, Laya, 42, terjaga dari tidur nyenyaknya. Ketika itu, ia merasa tangan kanannya kebas. Hari itu dilalui dengan pera­saan cemas karena tangannya sama sekali tidak bertenaga.

Pria yang berprofesi sebagai akuntan publik itu pun menjalani berbagai pengobatan medis. "Ada yang mengatakan saya menderita stroke, bahkan ada juga yang bilang saya terkena guna-guna," ungkap Laya di Jakarta, pekan lalu.

Tidak beberapa lama, kaki kanan serta tangan dan kaki kirinya pun ikut terkena gangguan gerak (movement disorder). Hal itu membuatnya susah berjalan. Bahkan, ketika duduk dan ingin menggeser pantatnya, ia membutuhkan waktu 5 menit untuk melakukan itu.

Deritanya berakhir setelah ia melakukan operasi stimulasi otak dalam atau deep brain stimulation (DBS) di rumah sakit swasta di Jakarta.

Kini, pria yang tinggal di kawasan Mangga Dua, Jakarta, itu sudah ber­aktivitas seperti sebelum menderita parkinson.

Parkinson adalah penyakit yang menyerang otak dengan gejala utama berupa gangguan gerak yang disebabkan berkurangnya zat yang membantu mengirimkan sinyal dalam sistem saraf ke otak (dopamin). Kondisi itu muncul karena kematian sel substantia nigra atau otak tengah.

Menurut dokter spesialis saraf RSUP dr Kariadi Semarang, Prof Dr Amin Husni, hingga saat ini penyebab penyakit parkinson belum diketahui. Namun, ada beberapa faktor seperti usia, jenis kelamin, faktor genetik, lingkungan, dan ras.
Gejala penyakit ini bisa diketahui dari gangguan gerak, yakni berupa gemetar (tremor) pada bagian tubuh saat diam dan kaku pada otot atau sendi (rigiditas). Selain itu, melambatnya reaksi serta gerakan (akinesia/bradykinesia), dan memburuknya keseimbangan tubuh sehingga penderita mudah jatuh (postural instability).

"Jika mengalami salah satu dari gejala tersebut, pasien mungkin saja mengalami parkinson. Bila dua gejala yang dialami, itu sangat mungkin, dan kalau sudah mengalami tiga dari empat gejala tersebut, dapat dipastikan ia mengalami parkinson," kata dia pada seminar bertajuk Terapi Terkini pada Penyakit Parkinson di Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk, Jakarta, Rabu (18/3).

Sayangnya, dokter atau pasien sering kali tidak menyadari ketika baru satu gejala yang muncul.

Obat dan latihan
Penyakit parkinson selama ini banyak menyerang orang berusia lanjut. Namun, penyakit yang ditemukan pada 1817 oleh dr James Parkinson itu nyatanya dapat menyerang usia muda. "Rata-rata penyakit parkinson menyerang orang yang berusia di atas 40 tahun, tetapi yang berusia 20 tahun juga bisa kena. Kalau usia muda sudah terkena parkinson, kebanyakan itu disebabkan faktor genetik," ujar dokter spesialis bedah saraf dari RS Siloam Kebon Jeruk, Jakarta, Dr Made Agus M Inggis.

Spesialis saraf yang juga dari RS Siloam Kebon Jeruk, Frandy Susatia, menambahkan parkinson tidak mengakibatkan kematian. "Biasanya pasien parkinson meninggal karena mengidap penyakit lain, seperti diabetes melitus dan gagal ginjal."

Penderita parkinson juga tidak bisa sembuh total. Mereka dapat melakukan berbagai pengobatan untuk meningkatkan kualitas hidup. Pengobatan tersebut antara lain, rutin minum obat, seperti Levodopa (obat yang mampu mengubah asam amino di dalam otak menjadi dopamin) atau melakukan terapi.

Obat-obatan yang dikonsumsi pasien parkinson biasanya akan menimbulkan efek samping, seperti gangguan pencernaan (mual, muntah), dan gangguan lainnya. Oleh karena itu, mereka dianjurkan me­ngonsumsi makanan berserat.
Mereka juga disarankan rutin melakukan latihan gerak agar dapat membantu meningkatkan koordinasi motorik, keseimbangan, dan gaya berjalan.

Pengobatan baru
Kini, pasien parkinson dapat meningkatkan kualitas hidup mereka dengan cara yang lebih canggih dan modern, yakni operasi stimulasi otak dalam (DBS). "DBS merupakan metode terapi yang paling standar dan diterima luas di kalangan kedokteran. Dengan melakukan operasi ini, penderita parkinson dapat kembali hidup normal dalam waktu singkat seperti sebelum menderita Parkinson," Dr tutur Made.

Operasi ini bisa dilakukan pada pasien yang sudah sekitar lima hingga sepuluh tahun minum obat, tidak mengalami gangguan jiwa, serta tidak mengalami gangguan memori.

Saat ini, DBS merupakan teknik operasi terbaru yang sedang berkembang di Indonesia.

Pada operasi itu, sejumlah elektrode ditanam dalam otak dan dihubungkan dengan sebuah alat elektris kecil bernama metronik yang bisa diprogram dari luar.

DBS dapat mengurangi kebutuhan obat Levodopa dan obat-obat lain, bahkan memungkinkan pasien parkinson tak lagi butuh mengonsumsi obat-obatan pascaoperasi. (Tri Marliani/H-1)

puput@mediaindonesia.com



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya