PERAN Kepala Sekolah (Kepsek) penting dan strategis mendorong kemajuan suatu sekolah.
Hasil temuan Yayasan Cahaya Guru dalam pelatihan kepada 4000 guru menemukan informasi bahwa kepala sekolah yang efektif dan terbuka membuat sekolah itu dinamis dan guru menjadi kreatif.
"Temuan kami pada pelatihan tersebut menunjukkan kepsek yang efektif dan terbuka mampu membuat sekolah dinamis sekaligus mendorong gurunya berkembang kreatif," kata Ketua Yayasan Cahaya Guru Henny Supolo pada diskusi media tentang Manajemen Guru yang diselenggarakan Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP) di Kemendikbud, Jakarta.
Acara tersebud dipandu Sari Soegondo dari ACDP dengan nara sumber Kepala Pusat Penelitan Kebijakan Paramadina yang juga anggota ACDP, Totok Amin Soefijanto, Kepala Sub Bidang Pendidikan Tinggi Badan Pembangunan nasional (Kasubdit Bapenas) Amich Almuhami dan Henny Supolo.
Menurut Henny, dengan mengambil semangat pendiri Taman Siswa yang juga bapak pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantoro, bahwa pendidikan itu sejatinya memerdekakan siswa.Maka kepsek yang terbuka itu mendorong kemerdekaan dan kreativitas guru dan juga siswanya.
"Guru yang tidak merdeka karena keterbatasan pengetahuan dan ketrampilannya, namun ada titik cahaya yag baik saya mengenal kepsek dan guru yang mendorong siswanya serta memberi penguatan pada orang tua siswa," cetusnya.
Menurut Amich Almuhami ada kecenderungan guru daya kritisnya belum baik karena pendekatan pembelajaran bersifat ekposisi atau satu arah tidak memberikan kesempatan interaksi pada murid. Sejatinya, dalam teori paedagogi mesti dengan pendekatan menggali potensi siswa, yakni menumbuhkan kreativitas, kemampuan analitik pada pelajaran di kelas dan menumbuhkan daya imajinasi.
"Proses pembelajaran paedagog itu berpusat pada murid, bukan pada guru," cetus Amich.
Sementara Totok menyatakan semua setuju bahwa mutu pendidikan sangat tergantung pada mutu guru. Oleh sebab itu, diperlukan manajemen guru yang baik. Dikatakan, ada empat aspek dalam manajemen ini, yaitu ketersediaan (suplai), distribusi, kualitas, dan biaya.
Dalam hal ketersediaan, kata dia, jumlah guru tidak kurang namun ada masalah sebaran. Guru banyak menumpuk di kota dan kawasan desa yang maju sementara wilayah terpencil masih kekurangan guru. Solusinya, menurut dia, kurangi jumlah sekolah kecil, guru boleh mengajar dua mata pelajaran, dan insentif untuk mengajar di daerah terpencil dan pedesaan.
Selain itu, Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan (LPTK) harus menyeleksi ketat calon mahasiswanya agar mutu tak kalah dibandingkan ITB, UI, IPB, dan UGM.
Dalam hal distribusi, rasio perbandingan guru-siswa di Indonesia 15:1 masih terlalu kecil dibandingkan UNESCO atau Asia yang sekitar 26:1 dan 24:1. Begitupun, rumus 9 guru per sekolah juga tidak bisa dipaksakan.
"Rasio kecil ini mestinya bagus, tapi banyak kendala di lapangan seperti kompetensi guru dan guru membolos atau absen ketika mengajar," cetusnya.
Solusinya, kata dia, alokasikan guru sesuai rasio guru-siswa, demografi, pemetaan sekolah, dan angka atrisi (penurunan) guru. "Kita dorong guru mampu mengajar multijenjang, melatih kepala sekolah mengawasi kerja guru secara serius, dan menggabungkan sekolah-sekolah kecil," pungkasnya.(Q-1)