Pendekatan Psiko Sosial untuk Perempuan Korban Kekerasan
Syarief Oebaidillah
13/5/2015 00:00
(--(ANTARA/Yusran Uccang))
KASUS kekerasan terhadapa kalangan perempuan merupakan fenomena gunung es, tidak tampak kelihatan namun dampaknya berantai pada individu,keluarga dan masyarakat. Dengan kondisi itu diperlukan pendekatan psiko sosial kepada korban.
"Pendekatan psiko sosial terhadap korban kekerasan melihat masalah tidak hanya secara inividu namun juga secara sosial dan spritual," kata psikolog Vitria Lazzarni Latief pada diskusi "Stop Kekerasan dan Diskriminasi terhadap Perempuan Mendorong Pembentukan Pribadi Mandiri dan kuat," di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Selasa (12/5).
Acara tersebut diselenggarakan Asosiasi Alumni Program Beasiswa Amerika-Indonesia (Alpha-I) bersama Yayasan Pulih.
Penanganannya, kata Vitria, harus memperkuat faktor pelindung dan menurunkan faktor risiko sehingga korban dapat bangkit, menjalankan peran sosialnya untuk hidup produktif.
Selain itu, harus ada kesadaran untuk bersungguh-sungguh dan mau keluar dari masalah yang dihadapi disertai dukungan dari pihak lain yang memiliki kepedulian terhadap korban kekerasan.
Penggiat antikekerasan perempuan, dari Yayasan Bandung Wangi Endang Suprihatni dalam kesempatan itu memaparkan pengalamannya sebagai korban kekerasan dan traficking mampu keluar dari persoalan dan trauma yang dialami berkat kemauan dan bantuan Bandung Wangi.
"Saya mampu keluar dari jeratan kekerasan perempuan karena Bandung wangi menerima dan membimbing saya secara kekeluargaan" ujarnya.
Direktur Yayasan Pulih Irma Matram menyebutkan satu dari tiga perempuan pernah mengalami kekerasan mulai dari kata-kata yang merendahkan, suitan, dicolek, kekerasan fisik hingga perkosaan.
Sementara itu, Tursia dari Alpha-I mengemukakan data yang diperoleh jumlah keseluruhan kasus kekerasan perempuan di Indonesia mencapai 279.668 kasus, dengan 50 persennya berupa kekerasan psikis.
Menurutnya Alphai memfokuskan programnya pada proses penanganan korban kekerasan yang dialami perempuan.
"Alphai memiliki semangat voluntarisme dalam melaksanakan berbagai programnya di wilayah. Salah satu program kami adalah Gender Based Violent, yang telah dilakukan di Aceh hampir satu tahun," ujarnya. (Q-1)