PERAIH medali emas International Science Project Olympiad (Ispro) kategori Lingkungan Irham Syarif dan Ahmad Abrar berharap hasil karya mereka mendapat hak paten dan kelak diproduksi sehingga berguna bagi masyarakat luas.
Irham dan Abrar mengikuti Ispro dengan proyek penelitian Pollutants Leads Absorber Helm Masker by Using Mahogany Leaf and Jackfruit Leaf. Dengan karyanya itu, mereka membuat masker helm yang mampu menyerap timbal. Helm tersebut mereka buat dari bahan yang mudah ditemukan yakni daun nangka dan mahoni.
Irham dan Ahmad mengaku melakukan penelitian selama lima bulan dan kreasi mereka pernah meraih medali emas di kompetisi ilmiah tingkat nasional.
â€Kami berharap penelitian ini dapat menjaga kelestarian lingkungan,†kata Irham.
Irham Syarif dan Ahmad Abrar berasal dari SMAN 1 Bantaeng, Sulawesi Selatan.
Irham menyatakan sebelum dipatenkan, ia diberi kesempatan menyempurnakan karyanya itu. "Setelah kami sempurnakan maka kita dibantu dipatenkan lalu dapat diproduksi secara massal," cetus Irham saat dihubungi Media Indonesia, Senin (11/5).
Ia berharap pemerintah lebih mengapresiasi lomba seperti ini, juga memberi kemudahan kepada seluruh siswa berprestasi masuk PTN yang diinginkan. Menurutnya, para juara peraih emas Ispro dijanjikan beasiswa hingga S3 asalkan diterima di PTN yang dituju.
Namun ia mengaku sedang galau karena tidak lolos Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2015. Ia memilih fakultas teknik UGM dan berharap mendapat beasiswa melanjutkan pendidikan hingga S3.
"Sayang sekali aku dan Abrar enggak lulus SNMPTN, jadi sekarang menunggu respon kementerian. Semoga mendapat surat rekomendasi buat kami," cetusnya.
Ia mengaku akan mencoba ikut Seleksi Bersama Masuk PTN (SBMPTN) namun ia mendapat informasi salah seorang siswa Bali diterima di Fakultas Kedokteran UI dengan bermodalkan sertifikat internasional dan surat keterangan atau rekomendasi dari dinas pendidikan kabupaten atau kota.
Irham kelahiran Bantaeng 18 September 1996 merupakan anak kedua dari keluarga petani penggarap sawah pasangan Syarifuddin dan Norma. Ia mengaku tidak minder kendati bapaknya petani.
"Saya nggak minder, yang tidak enak kalau mau beli buku mata pelajaran pasti aku yang terakhir membayar. Laptop saja aku minjam sama familiku," ujarnya.
Kendati anak petani miskin, ia memunyai cita-cita tinggi ingin menjadi wirausahawan dengan perusahaan sendiri dan dapat membuka lapangan kerja di Bantaeng.
"Saya ingin jadi direktur perusahan dan membangun perusahaan sendiri agar mampu membuka lapangan pekerjaan buat warga Indonesia terkhusus untuk masyarakat dari daerahku, Bantaeng," pungkasnya.(Q-1)