Daya Jelajah Orang Utan dan Keanekaragaman Hayati

(Zuq/M-2)
03/8/2018 23:20
Daya Jelajah Orang Utan dan Keanekaragaman Hayati
(AFP/BAY ISMOYO)

KEKERINGAN panjang pada 2015 itu menyebabkan munculnya titik api di hutan sekitar Stasiun Riset Tuanan, ­Kalimantan Tengah. Kebakaran tak dapat dihindari. Sekitar 88 hektare dari 1000 hektare area studi di Program Konservasi Mawas terbakar.

Program Konservasi Mawas adalah sebuah program Yayasan Borneo Orang Utan Survival Foundation (BOSF) yang melindungi 309.860 hektare hutan yang dihuni sekitar 3.000 ­orang utan (Pongo pygmaeus) liar beserta keanekaragaman hayatinya. Besarnya kebakaran membuat tidak banyak vegetasi yang menjadi sumber pakan ­orang utan tersisa.  

Sebab tidak hanya hutan terbakar yang tidak menghasilkan buah, tetapi hutan di sekitarnya juga yang berdampak asap.

“Setelah kebakaran, kondisi buah di Tuanan semua kacau pola pembuahannya. Buah dari pohon hampir sama sekali tidak berbuah pasca-2015 itu karena pengaruh asap. Tapi, jenis kamunda, meski tidak banyak, masih tetap berbuah,” terang peneliti dari Pusat Riset Primata Universitas Nasional (UNAS), Fajar Saputra, yang meneliti tentang daya jelajah orang utan remaja di Tuanan, kepada Media Indonesia, Jumat (3/8/2018).

Akar kamunda itulah yang menjadi kunci orang utan bertahan di tengah paceklik buah setelah kebakaran. Fajar juga menjelaskan bagaimana pengaruh kelimpahan buah pada suatu wilayah berpengaruh terhadap daya sebar orang utan.
“Saat musim buah tinggi, ­orang utan remaja membesar daerah jelajah dia. Namun, ketika musim buah menurun, penjelajahan mereka kecilin,” terangnya.”

Berbeda dengan habitat orang utan di wilayah lain, orang utan di Tuanan merupakan orang utan liar. Dikatakan demikian karena mereka tidak pernah keluar dari habitat sejatinya. Mereka hidup bebas dan mandiri seumur hidup.
Orang utan merupakan primata frugivore yakni hewan pemakan buah hutan. Lebih dari 100 jenis buah biasanya tercatat dalam makanan mereka dari satu area jelajah.

Daerah jelajah orang utan lumayan jauh, terutama untuk yang jantan bisa sampai lebih dari 3.000 hektare (ha). Sementara itu, orang utan betina cenderung hanya di lokasi tempat dia melahirkan. Meski demikian, daerah jelajahnya pun mencapai 300-1.500 ha.

Penyebar benih
Menurut Direktur Pusat Riset Primata UNAS, Sri Suci Utami Atmoko, terdapat kaitan antara keanekaragaman hayati di suatu wilayah terkait dengan daya jelajah orang utan. Semakin luas orang utan daerah jelajah, semakin terjaga pula keanekaragaman hayati di wilayah tersebut.

Sebab orang utan ialah penyebar benih buah yang penting. Orang utan menyebarkan benih lewat kotoran, ataupun membuang benih saat mereka melewati pepohonan. Orang utan memainkan peran kunci dalam ekologi dan regenerasi hutan.

“Kaitannya dengan keanekaragaman hayati, dia kan, pemencar biji, salah satu yang terbaik. Karena dia daya jelajahnya sangat luas, terus badannya besar otomatis makannya banyak. Ketiga, dia pemakan buah. Jadi, dia bisa menyebarkan biji buah yang dia makan,” terang Suci, Rabu (1/8).

Kaitan itu lebih bersifat pada ekologi dan habitat orang utan. Ketika habitat orang utan terjaga luasan ataupun kondisi alaminya, orang utan akan memainkan peran yang besar bagi ekosistem di wilayahnya. Ketika orang utan bebas menjelajah dan mencari makan, ia juga berjasa terhadap lingkungan.

Aktivitas makan pada orang utan memiliki persentase paling besar jika dibandingkan dengan yang lainnya yakni 58–64%. Ketika buah berlimpah, orang utan memilih buah yang telah matang saja untuk dimakan. Mereka tidak memakan buah mentah.

“Ketika buah banyak, dalam satu pohon dia makan yang matang saja, yang mentah tidak dimakan. Dia milih pohon lain. Jadi, makin banyak bergerak dia. Ketika dia tahu buah cukup banyak. Dia akan makan sebanyak-banyaknya,” terang peneliti dari UNAS, Ari Meididit.

Sebaliknya, ketika buah-buahan berkurang, orang utan juga akan membatasi diri untuk tidak menjelajah terlalu jauh. Mereka memakan yang ada di sekitar, seperti rayap, semut, madu, dan jamur.

Kini, seusai kebakaran hebat di 2015, keanekaragaman hayati di sekitar Stasiun Riset Tuanan nyatanya dapat pulih. Hal ini sebagaimana ditemukan dari riset Mutia Afianti, Ratnawati, dan Marlia Fajri Hayoto dari Pusat Riset Primata UNAS yang dipaparkan di simposium internasional bertajuk Conservation Efforts and Knowledge Development through Long-Term Research di Universitas Nasional di Jakarta, akhir Agustus.

Dalam tiga kali penelitian dengan subjek berbeda, para peneliti itu masih menemukan keanekaragaman hayati yang berlimpah. Pertama, pada September 2014-Juni 2015 dengan subjek makrofungi. Kedua, pada September 2014-Agustus 2015 dengan subjek rayap. Ketiga, pada Maret-September 2017 dengan subjek burung.

Hasilnya, masih ditemukan 124 spesies burung dari 3 kondisi habitat yang berbeda, makrofungi sebanyak 461 spesies, serta banyak rayap masih dapat ditemui. Meski begitu, belum diketahui bagaimana pola keterkaitan ­antara kelimpahan ­keanekaragaman hayati makrofungi hingga burung ini dan aktivitas hidup orang utan. (Zuq/M-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya