Dea Lestari Jiwa Sosial Berawal dari Foto

(Riz/M-3)
04/8/2018 02:55
Dea Lestari Jiwa Sosial Berawal dari Foto
(MI/SUMARYANTO BRONTO)

SOSOKNYA mungkin sudah familier di layar kaca. Sejumlah FTV bertajuk religi diperankannya. Dea Lestari, pegiat seni peran lulusan jurnalistik ini tidak hanya jago akting, tapi juga memiliki kegiatan sosial yang dimulainya saat duduk di bangku kuliah.

Pengalamannya yang dekat dengan anak-anak jalanan menginspirasinya memiliki sebuah lembaga pendidikan bernama Yayasan Permata Hati dan TK Permata Hati. Semuanya berbekal rumah keluarga dan modal pribadi yang sudah berdiri sejak 2015.

"Dulu saya suka motret, terus suka buat foto esai, dan mungkin minat saya dari situ ke human interest, anak-anak, dan sosial. Dari sana mulai mengajar baca tulis bagi anak-anak jalanan. Saya berpikir sekolahkan saja dan ternyata tidak semuanya merespons baik untuk sekolah baik dari anak maupun walinya/koordinatornya," jelas Dea.

Niat baik Dea tersebut tidak disambut baik pihak-pihak yang ada di sekeliling anak-anak tersebut. Bagi oknum-oknum tersebut, kegiatan Dea mengganggu karena selama ini anak-anak tersebut dianggap sebagai sebuah komoditas yang menghasilkan uang.

"Tempatnya kebanyakan pindah-pindah di Taman Lembang, Taman Suropati, dan ada pihak-pihak yang tidak suka dan menganggapnya mengganggu ekosistem mereka. Saya beri pengajaran ke anak-anak itu setiap hari Jumat, tapi kadang gak cuma belajar karena kadang saya bawa nonton, jalan-jalan ke Planetarium atau ke mana, ajak mereka makan, saya ajak main saja. Ada pihak yang tidak senang karena anak-anak itu jadi tidak 'kerja' dan tidak menghasilkan," tambahnya.

Pengalamannya itu pun mengantarkannya terbang ke Zimbabwe untuk melihat realitas sosial anak-anak di salah satu negara miskin di benua Afrika tersebut. Selama satu bulan di Zimbabwe, Dea pergi ke sekolah-sekolah di pedalaman negeri itu. Tidak hanya pergi ke sekolah-sekolah yang mayoritas dibangun pihak asing saja. Di sana Dea berjumpa dengan anak-anak penderita HIV/AIDS yang dibuang orangtuanya.

"Anak-anak itu adalah hasil dari hubungan yang tidak siap dan dibuang orangtuanya lalu dikumpulkan para dokter pendatang tersebut," ujarnya.

Anak-anak yang bersekolah di TK yayasannya pada awalnya digratiskan. Sekarang dikenai biaya, meski tidak mahal, masih ada yang tidak bayar dan dijadikan anak asuh.

"Uang untuk menjalankan banyak dari yang membantu juga, ada uang pribadi. Suami juga support dan mengerti. Ke depannya saya ingin lebih mengaktifkan yayasan ini. Saya ingin anak-anak yang kurang mampu punya kesempatan yang sama dalam pendidikan agar punya harapan karena tanpa harapan tidak ada kehidupan," tutup Dea.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya