Uhamka Bantu Mahasiswi Simalungun Lanjutkan Kuliah

Syarief Oebaidillah
02/8/2018 22:12
Uhamka Bantu Mahasiswi Simalungun Lanjutkan Kuliah
(Foto: Istimewa)

ARNITA Rodelina Turnip, mahasiswi Institut Pertanian Bogor asal Simalungun, Sumatra Utara, terpaksa terhenti kuliahnya karena beasiswa yang diberikan melalui Beasiswa Utusan Daerah (BUD) pemerintah daerah asalnya disetop.

Terhitung sejak 2015, gadis 21 tahun yang pernah menjuarai Olimpiade Sains saat SMA tersebut meraih BUD Simalungun senilai Rp20 juta per semester di IPB dengan rincian Rp11 juta untuk dana Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan Rp9 juta untuk biaya hidup.

Namun, dengan alasan tertentu, pada semester dua, tepatnya September 2016, Arnita tidak lagi tercatat sebagai salah satu penerima beasiswa BUD Pemkab Simalungun. Adapun pemberitahuan pemutusan program beasiswa BUD melalui surat Dinas Pendidikan Pemkab Simalungun kepada pihak IPB tersebut kemudian dibawa Ibunda Arnita, Ny Lisnawati, ke Ombudsman RI Perwakilan Sumut, yang berbuntut dipanggilnya Kepala Dinas Pendidikan Simalungun.

Selama lima semester tanpa membayar biaya kuliah menjadi beban bagi Arnita. Biaya tertunggak mencapai Rp55 juta tentu amat memberatkan Arnita. Sehingga ia sempat depresi, karena tidak lagi dapat membiayai hidup untuk menimba ilmu di kota hujan tersebut.

Dengan kondisi itu, Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) berinisiatif membantu meringankan dengan memfasilitasi guna melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Uhamka Jakarta, dan kebutuhan pendidikannya ditanggung sepenuhnya Muhammadiyah melalui program beasiswa Lazismu.

"Menurut kami, Arnita merupakan representasi wajah dan jati diri anak bangsa yang gigih, cerdas, dan kreatif. Ia membutuhkan kawah candradimuka untuk terus berkembang menjadi seorang yang berkarakter, cerdas, dan kompetitif," kata Wakil Rektor Uhamka, Zamah Sari melalui keterangan yang diterima, Kamis (2/8).

Dikatakan Zamah, kampusnya berinisiatif memberikan fasilitas bagi Arnita, pasalnya Uhamka memahami dan peduli terkait nasib seorang anak bangsa berprestasi, berbakat, dan telah menunjukkan kegigihannya menempuh kuliah dengan merantau dari asal daerahnya Simalungun ke Bogor.

"Apa pun agamanya, etniknya, dan sukunya, sudah selayaknya negara, dan kekuatan civil society seperti Muhammadiyah melalui Uhamka, memberi dukungan bagi tumbuh-kembangnya SDM seperti Arnita," ujar Zamah.

Uhamka melanjutkan memfasilitasi Arnita merupakan cara Muhammadiyah berdakwah di dunia pendidikan secara inklusif. Ini juga menjadi bagian dari cara Muhammadiyah untuk menghargai nilai-nilai kemanusiaan universal di mana setiap orang berhak atas pendidikan.

"Di mata orang banyak, Arnita mungkin hanya seorang anak Simalungun, yang karena faktor tertentu tidak bisa melanjutkan kuliahnya di salah satu Perguruan Tinggi Negeri terbaik di Republik ini karena beasiswa tidak atau belum bisa dicairkan," ungkap Zamah.

Zamah mengutarakan pendiri Republik ini menggariskan bahwa salah satu tujuan negara ini didirikan adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Artinya, setiap anak bangsa, tanpa melihat suku, etnik, bahasa, dan agama yang dianut, harus diberi kesempatan untuk tumbuh dan berkembang menjadi manusia beriman dan bertakwa, berkarakter, berpengetahuan, dan terampil. Ini  juga langkah strategis yang harus menjadi concern seluruh elemen bangsa, agar Indonesia terus bergerak ke depan menjadi negara yang berdaya saing tinggi .

Ia menyatakan di negeri ini, Arnita tidak seorang diri. Ada banyak Arnita lain dari berbagai pelosok daerah yang mungkin tidak dapat mengenyam pendidikan tinggi karena keterbatasan keuangan. Sehingga dibutuhkan kepedulian semua pihak guna membantu pendidikan bagi lainnya. (RO/OL-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya