Potensi Sampah belum Dioptimalkan

(Dhk/H-2)
03/8/2018 06:30
Potensi Sampah belum Dioptimalkan
(ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)

PENERAPAN ekonomi melingkar (circular economy) dalam pengelolaan sampah belum optimal. Padahal, timbulan sampah nasional sebanyak 65 juta ton per tahun potensial digarap secara produktif menjadi material daur ulang.

"Bicara circular economy, potensi sampah yang 65,8 juta ton per tahun menjadi sumber daya untuk diolah sehingga diharapkan tidak lagi ada sampah yang berakhir ke TPA," kata Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Novrizal Tahar, seusai konsultasi publik mengenai circular economy di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta,
Kamis (2/8).

Dia menambahkan, saat ini paradigma pengolahan sampah yang mulai digeser ke arah ekonomi melingkar masih menemui sejumlah tantangan. Selain karena paradigma itu masih baru dikenal di Indonesia, praktik di masyarakat belum mendorong ke arah sana.

"Sekarang memang belum seperti itu (circular economy). Ini dibutuhkan sistem pengumpulan sampah yang baik di masyarakat. Salah satunya dimulai dari perubahan perilaku masyarakat untuk terus menumbuhkan dan membiasakan perilaku pemilahan sampah," jelasnya.

Melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional (Jaktranas) Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Rumah Tangga, pemerintah menetapkan target pengelolaan sampah 100% pada 2025. Target tersebut dilakukan melalui pengurangan sampah sebesar 30%, dan penanganan sampah sebesar 70%.

Novrizal menambahkan, saat ini ada tiga jenis material sampah yang didorong untuk masuk ke rantai sistem ekonomi melingkar, yakni kertas, plastik, dan logam.

"Recycle plastik masih sekitar belasan persen, idealnya 100% agar bisa melingkar secara ekonomi.

Adapun industri kertas demand-nya sudah tinggi. Yang masih kurang secara mendasar sebenarnya perubahan perilaku masyarakat untuk memilah sampah tersebut kemudian hasil pilahannya masuk ke dalam sistem ini," katanya.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya