Pemberian ASI Eksklusif di Indonesia Hanya 35%

Indriyani Astuti
01/8/2018 23:06
Pemberian ASI Eksklusif di Indonesia Hanya 35%
(thinkstock)

ANGKA pemberian ASI ekslusif di Indonesia masih tergolong rendah.  Menurut Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan 2017, pemberian ASI ekslusif di Indonesia hanya 35%. Angka tersebut masih jauh di bawah rekomendasi WHO (Badan Kesehatan Dunia) sebesar 50%.

Ada sejumlah faktor yang mempengaruhi rendahnya ASI ekslusif di Indonesia. Salah satu diantaranya, kurangnya dukungan orang sekitar bagi ibu menyusui. Oleh karena itu,  survei demografi dan kesehatan Indonesia merekomendasikan pentingnya dukungan orang sekitar dalam menyukseskan pemberian ASI ekslusif.

"Banyak faktor yang membuat ibu tidak dapat memberikan ASI ekslusif antara lain kuranganya dukungan dari keluarga, tempat kerja, tidak ada waktu untuk memompa ASI, apakah di tempatnya bekerja ada privasi bagi ibu menyusui atau belum tersedia  ruang laktasi," ujar Dr.dr. Ariani Dewi Widodo SpA(K) dari Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita dalam acara jumpa media seputar tantangan ASI ekslusif, laktasi dan peluncuran Anmum MumtoMum di Jakarta, Rabu (1/8).

Ia menuturkan, ada beberapa hal yang membuat penurunan produksi ASI pada ibu. Pertama, ketika ibu mengalami stress atau lelah bekerja setelah cuti melahirkan. Kedua, ibu yang sakit dalam kurun waktu tertentu sehingga tidak dapat menyusui langsung. Ketiga, ibu yang merasa tidak nyaman secara psikologis karena mendapat tekanan dari keluarga ataupun lingkungan. Karena itu, ibu disarankan melakukan relaktasi ketika tidak memproduksi ASI selama dua minggu berturut-turut dalam masa enam bulan pertama ASI ekslusif.

Pada kesempatan yang sama, Senior Brand Manager Anmum Bernadeth Virna menyampaikan dari hasil suvei yang dilakukan oleh  Anmum pada 2017, ada perbedaan tantangan yang dialami oleh ibu baru dan ibu lama dalam memberikan ASI ekslusif. Ia menjelaskan, pada ibu baru tekanan yang muncul lebih pada tekanan emosional.

"Lebih panik bagaimana memproduksi ASI agar cukup bagi anaknya, kurangnya percaya diri atau tekanan dari orang sekitar," papar Virna.

Berbeda dengan ibu baru, Virna memaparkan tantangan ibu berpengalaman ketika harus memberikan ASI ekslusif yakni tekanan fisik seperti kelelahan pasca melahirkan.

"Harus berbagi tugas dengan suami dan tantangan mengurus  anak pertama. Ada juga kendala lain seperti lidah pendek pada bayi sehingga sulit menyusu," tutur Virna.

Berdasarkan hasil survei, diketahui juga bahwa ibu baru lebih mengandalkan saran dan pengalaman dari ibu ataupun ibu mertua dalam metode pengasuhan anak termasuk pemberian ASI. Sedangkan, ibu berpengalaman akan bekerja sama dengan suami dalam mengembangkan metode pengasuhan anak.

"Untuk ibu baru maupun ibu berpengalaman, internet merupakan sumber informasi yang diandalkan dalam mengembangkan gaya pengasuhan," terang Virna.

Oleh karena itu, Anmum, tutur Virna, menyediakan platform bagi ibu untuk mendiskusikan topik yang berhubungan dengan kehamilan dan menyusui. Tujuannya memastikan supaya para ibu tidak merasa sendirian selama perjalanan mengasuh anak. (OL-7)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya