Kaum Ibu Rentan Nyeri Pergelangan Tangan

(Dhk/H-2)
01/8/2018 02:00
Kaum Ibu Rentan Nyeri Pergelangan Tangan
(THINKSTOCK)

RASA nyeri pada pergelangan tangan kerap dianggap sebagai sakit biasa yang bisa hilang dengan sendirinya. Padahal, nyeri tersebut bisa menghambat aktivitas, bahkan menjadi tanda gangguan serius.

Menurut dokter spesialis bedah ortopedi Rumah Sakit Pondok Indah-Bintaro Jaya, dr Oryza Satria SpOT(K), nyeri merupakan pertanda ada gangguan pada sistem persendian tangan.

"Tangan merupakan daerah rawan karena strukturnya kompleks. Ada 27 tulang, 29 persendian, 123 ligamen, 30 pembuluh darah, 48 saraf, dan 34 otot," ujarnya dalam diskusi di Jakarta, pekan lalu.

Menurut dia, jenis nyeri pada pergelangan tangan yang jamak diderita ialah cedera, carpal tunnel syndrome (CTS), dan artritis (radang sendi). Faktor risiko gangguan tersebut antara lain olahraga yang keliru dan kegiatan repetitif (berulang) setiap hari.

"Perempuan banyak yang mengalami nyeri pergelangan tangan, umumnya yang berusia di atas 40 tahun. Itu karena banyak kegiatan rumah tangga yang repetitif seperti memasak, mengulek, mengepel, menyetrika, sementara pasien laki-laki lebih banyak karena faktor cedera olahraga," ungkapnya.

Menurut Oryza, gangguan CTS kerap dialami banyak orang. Gejala CTS ditandai dengan mati rasa dan kesemutan pada tangan dan lengan yang disebabkan terjepitnya saraf medianus di pergelangan tangan.

Dia menjelaskan, carpal tunnel merupakan bagian lorong-lorong sempit di dalam pergelangan tangan. Lorong itu dikelilingi tulang-tulang di bagian bawah dan ligamen yang melintang di atasnya. Saraf medianus berada pada lorong tersebut. Pada kondisi normal, saraf medianus memberikan sensasi perasa atau sentuhan pada telapak dan jari tangan.

"Ketika terjadi pembengkakan pada bagian tersebut, saraf median akan tercekik dan mengakibatkan kondisi CTS," jelasnya.

"Jika nyeri terasa selama dua minggu hingga satu bulan lamanya, itu artinya nyeri menetap. Perlu segera diperiksa," imbuhnya.

Untuk penanganannya, lanjut Oryza, dilakukan sesuai dengan derajat nyeri yang dialami pasien. "Kalau ringan kita bisa memakai splint (alat bantu ortopedi) selama seminggu. Kalau sedang, bisa dilakukan suntik antiradang. Kalau sakitnya hebat, baru dilakukan operasi," ujarnya.

Penggunaan gawai
Oryza menambahkan, saat ini juga muncul faktor risiko baru yang juga memicu perilaku repetitif, yakni penggunaan gawai. Baik ponsel pintar, komputer, maupun laptop kerap menyebabkan tangan nyeri.
"Ngetik atau main smartphone berlebihan bisa bikin saraf tegang hingga timbul nyeri," terangnya.

Gejala itu bisa dirasakan ketika seusai bermain ponsel timbul rasa nyeri, tangan kesemutan, dan tegang. Untuk menghindarinya, disarankan untuk mengganti jari atau tangan yang digunakan atau mengubah posisi gawai senyaman mungkin saat dipakai. (Dhk/H-2)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya